Parents

Anda Ingin Menjadi Orangtua Seperti Apa? (Bagian #2)

Posted on Updated on

( Oleh : Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog )

Ingin tahu kelanjutan karakteristik personal yang ingin dimiliki para orangtua (dan calon orangtua), menurut pakar hubungan Drs. Les & Leslie Parrott? Berikut pembahasannya.

  1. Apakah Anda Orangtua SELEBRATIF?

Ada banyak hal yang dapat dirayakan dalam kehidupan anak—ulang tahun, sudah berani tidur sendiri, pertama kali sekolah, berhasil menghentikan kebiasaan buruk, dll. Perayaan tidak hanya bertujuan mengingat momen penting, tapi yang lebih utama adalah sebagai peluang menyampaikan pesan cinta yang kuat pada anak Anda. Rencanakan kegiatan (atau kejutan) untuk merayakan momen-momen kehidupan anak yang penting dan patut diingat.

  1. Apakah Anda Orangtua yang DAPAT DIPERCAYA DAN DIANDALKAN?

Penting sekali untuk menunjukkan pada anak bahwa Anda pantas dipercaya dan mampu diandalkan. Tidak ada cara yang lebih tepat selain menggunakan setiap kesempatan untuk menunjukkan apa yang Anda bicarakan—walk the talk. Menghargai anak juga penting dalam menjadi orangtua yang dihargai dan dapat dipercaya. Beberapa cara sederhana untuk menunjukkan Anda menghargai anak: lakukan kontak mata saat anak bicara pada Anda, hargai kebutuhannya untuk bermain/meluangkan waktu bersama teman-teman, beri anak kesempatan menjawab jika ditanya orang lain (tahan godaan untuk bicara atas nama anak terutama jika ia ada di dekat Anda).

  1. Apakah Anda Orangtua yang MENENANGKAN?

Tanamkan kenyamanan emosi yang mendalam pada anak agar keluarga menjadi tempat teraman baginya di dunia ini. Bagaimana caranya? Yakinkan anak bahwa Anda selalu dapat diajak bicara, berbagi dalam suka dan duka. Secara harafiah, “to comfort” berarti membuat seseorang menjadi lebih kuat. Setiap kali Anda menyemangati anak dengan kata-kata motivasi, menenangkannya dengan sentuhan lembut, mengurangi kesedihannya dengan berada di dekatnya, atau mendukungnya dengan pujian tulus—Anda membuat anak Anda menjadi lebih kuat.

  1. Apakah Anda Orangtua BIJAKSANA?

Kebijaksaan tidak dilihat dari seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, tapi apa yang dilakukan dengan pengetahuan yang dimiliki. Bantu anak menerima pengalaman negatif sebagai fakta kehidupan, gunakan sebagai kesempatan memberikan pelajaran hidup. Salah satu pelajaran penting dari orangtua adalah kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anak. Anda tidak perlu khawatir kehilangan otoritas jika mengakui kesalahan kepada anak. Sebaliknya, mengucapkan permintaan maaf secara tulus menunjukkan integritas dan respek, serta mendorong anak melakukan hal yang sama ketika ia melakukan kesalahan.

  1. Apakah Anda Orangtua yang DEKAT DENGAN TUHAN?

Orangtua adalah pembina iman yang pertama dan utama bagi anak. Gunakan berbagai kesempatan untuk bersama-sama berdoa. Ajarkan juga bahwa berdoa tidak hanya berarti bicara dengan Tuhan, tapi juga mendengarkan Tuhan bicara dengan kita—melalui suara hati atau melalui orang lain. Mendorong anak berdoa, beribadah atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan tidaklah cukup. Jelaskan mengapa semua itu penting. Kehadiran Tuhan dapat ditunjukkan melalui kebiasaan atau pengalaman sehari-hari, misalnya saling mendoakan antar anggota keluarga, bergiliran mengucap syukur atas hal baik yang diterima hari ini.

Kesepuluh karakteristik tersebut tidak berarti harus Anda miliki seluruhnya, karena faktanya tidak ada orangtua yang sempurna. Setidaknya poin-poin di atas diharapkan dapat membantu Anda berefleksi untuk menjadi orangtua yang lebih baik, demi kebahagiaan keluarga Anda tercinta. Jadi, karakteristik apa saja yang ingin Anda miliki sebagai orangtua?

Mengutip perkataan motivator Mario Teguh, “Upaya untuk membuktikan kesungguhan doa (harapan) lebih penting daripada doa itu sendiri.”

Anda Ingin Menjadi Orangtua Seperti Apa? (Bagian #1)

Posted on Updated on

( Oleh : Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog )

“Love must be fed and nurtured… First and foremost, it demands TIME.”

-David Mace-

Waktu menjadi investasi penting dalam proses menumbuhkan (menguatkan) cinta dalam suatu hubungan, termasuk hubungan orangtua dan anak. Meluangkan waktu untuk merefleksikan interaksi Anda dengan anak adalah salah satu tindakan sederhana namun bermanfaat bagi keluarga Anda.

Dalam bukunya “The Parent You Want To Be”, pakar hubungan Drs. Les & Leslie Parrott merangkum 10 karakteristik personal yang ingin dimiliki para orangtua (dan calon orangtua). Ajukan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini pada diri Anda, lalu coba pikirkan hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk semakin mendekati karakteristik tersebut.

  1. Apakah Anda Orangtua AFIRMATIF?

Berikan pujian yang menjadi kebutuhan—makanan jiwa—bagi anak. Pujian realistis terhadap apa yang anak lakukan tidak membuatnya besar kepala. Sebaliknya, afirmasi yang disampaikan dengan tulus akan menunjukkan bahwa Anda memperhatikan, mencintai, dan menghargai anak Anda. Contoh afirmasi atau pernyataan positif: “Terima kasih ya sudah berbagi kue dengan adik. Bunda bangga deh!” atau “Papa nggak sabar mau pulang kantor, main sama kakak bikin Papa senang!”

  1. Apakah Anda Orangtua yang SABAR?

Orangtua yang sabar mencoba melihat dari sudut pandang anak. Terkadang harapan orangtua melebihi kemampuan anak sesungguhnya, sesuai tahapan perkembangan mereka. Anda perlu menyesuaikan tuntutan dengan kenyataan. Misalnya, anak Anda yang berumur 5 tahun masih berusaha mengikat tali sepatu dan Anda gelisah karena harus segera pergi. Jika Anda mengikatkan talinya bisa lebih cepat selesai dan segera berangkat. Tapi Anda menyadari bahwa kemampuan mengikat tali sepatu akan membuatnya mandiri dan lebih percaya diri. Anda dapat mendukungnya dengan memberi waktu lebih lama untuk bersiap-siap agar tidak terburu-buru dan membuat Anda kurang sabar. Agar tetap tenang saat frustrasi, tarik nafas, hitung sampai 10, ulangi bila perlu.

  1. Apakah Anda Orangtua ATENTIF?

Secara sederhana, atentif berarti memperhatikan. Perhatikan kenyamanan dan kebutuhan anak, perilaku nonverbalnya (gestur tubuh). Anak tidak selalu dapat mengekspresikan dirinya secara gamblang, ada kalanya sikap atau perilaku mereka lebih jujur daripada ucapan mereka. Cobalah untuk “mendengarkan” apa yang tidak dikatakan oleh anak—perasaan, keinginan, ketakutan mereka. Temukan cara halus dan bermakna untuk menunjukkan kepada anak bahwa Anda memahaminya dan mencintainya. Selipkan kejutan di tas anak ketika melihat ia kurang bersemangat atau cemas menjelang ujian. Makanan kesukaan dengan secarik kertas bertuliskan kata-kata penyemangat atau ungkapan rasa sayang Anda akan mencerahkan harinya.

  1. Apakah Anda Orangtua VISIONER?

Orangtua visioner mencoba bayangkan gambaran masa depan anak—apa yang ingin ia lakukan, ingin menjadi apa—tanpa berusaha memaksakan gambaran pribadi Anda tentang masa depan anak. Diperlukan kemauan dan keterbukaan untuk mengenali bakat/potensi, keunikan dan mimpi-mimpi anak Anda. Pupuklah masa depannya dengan membantu mewujudkan apa yang ingin ia lakukan dan mengapresiasi apa yang ia lakukan, misalnya berkomentar “Abang kelihatannya senang sekali ajarin adik berhitung, apa kalau sudah besar Abang mau jadi guru?”

  1. Apakah Anda Orangtua yang TERHUBUNG?

Dibutuhkan upaya untuk membangun ikatan (bonding) antara orangtua dan anak, utamanya melalui komunikasi. Ciptakan pengalaman-pengalaman yang dapat meningkatkan bonding misalnya melakukan kegiatan yang sama-sama Anda dan anak Anda nikmati. Prinsip umumnya, kita merasa paling terhubung ketika menemukan kesamaan dengan orang lain—berlaku juga untuk hubungan anak dan orangtua. Ketika Anda memiliki kesamaan dengan anak, hati Anda terhubung dengannya.


Internet : Antara Kawan dan Lawan

Posted on Updated on

(Oleh : Harfiah Putu Ponco, M.Psi)

Di masa sekarang ini, keberadaan internet telah mempermudah kita dalam berkomunikasi dan juga mencari informasi. Melalui internet kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja dari seluruh dunia tanpa harus keluar dari rumah. Melalui internet kita juga hampir bisa mendapatkan segala macam informasi dalam waktu singkat tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Mengaksesnya juga semakin mudah. Mulai dari komputer pribadi, tablet, sampai dengan telepon pintar (smartphone) di genggaman tangan. Namun, segala kemudahan yang ditawarkan oleh internet ini harus disikapi dengan bijak. Karena dibalik segala kemudahannya, ada bahaya yang juga mengintai di dunia maya tersebut.

Di satu sisi, internet dapat digunakan sebagai salah satu media bagi anak untuk belajar dan juga bermain. Namun di sisi lainnya, akses informasi tanpa batas ini juga membuat anak rentan untuk terpapar materi negatif (pornografi, kekerasan, dll) yang pada akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya. Selain itu, akses komunikasi tanpa batas ini juga tidak jarang digunakan oleh orang-orang yang berniat jahat untuk menjaring korbannya. Dengan demikian, orangtua harus membuka mata dan berperan aktif untuk membimbing putra-putrinya agar dapat menggunakan internet dengan sehat dan tidak menjadi korban dari efek negatif dunia maya. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan :

  1. Bangun keterbukaan komunikasi dan kedekatan dengan anak sejak dini.

Jika anak dapat merasa bebas untuk membicarakan dan mendiskusikan apapun dengan orangtuanya, maka ia akan lebih terbuka dan enggan untuk menyimpan rahasia dari orangtuanya. Orangtua jadi lebih mudah untuk memantau hal apa yang sedang digeluti anaknya dan juga permasalahan apa yang sedang dialami anaknya. Selain itu, anak juga akan cenderung lebih mudah untuk diarahkan.

  1. Batasi akses internet sesuai kebutuhan.

Saat ini banyak orangtua yang sudah melengkapi anak-anak mereka dengan telepon pintar tanpa mengetahui hal apa saja yang bisa dilakukan anak mereka dengan telepon pintar tersebut. Dalam hal ini orangtua harus mendorong diri mereka agar melek teknologi. Kenali fungsi dari semua peralatan yang dimiliki anak (telepon, komputer, modem, dll) dan bagaimana mengaturnya. Untuk melakukan pembatasan akses internet sesuai dengan kebutuhan, dapat melalui :

  • Pembatasan alat yang digunakan.

Anak Sekolah Dasar tentunya belum membutuhkan telepon pintar yang dapat digunakan untuk mengakses sosial media maupun browsing internet. Jika tujuan orangtua melengkapi anaknya dengan telepon genggam adalah untuk berkomunikasi, maka gunakanlah telepon yang memang hanya dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan orangtuanya. Berikan batasan (sesuai dengan usia dan kebutuhan) kapan anak dapat menggunakan telepon maupun peralatan elektronik lainnya dengan fitur-fitur tertentu.

  • Pebatasan akses layanan internet

Orangtua harus memahami dulu kapan anak membutuhkan layanan internet dan dibutuhkan untuk apa saja. Kenali layanan yang diberikan penyedia layanan seluler yang digunakan anak dan sejauh mana layanan tersebut dapat digunakan oleh anak melalui teleponnya. Pantau penggunaannya.

Jika kebutuhan anak akan internet adalah sebatas mengerjakan tugas sekolah. Maka bisa saja orangtua menyediakan komputer di rumah yang dapat digunakan untuk mengakses internet, yang penggunaannya tetap dalam pengawasan. tMisalnya komputer dengan akses internet digunakan bersama di area keluarga atau di ruang belajar.

  • Pembatasan materi yang dapat diakses anak

Pelajari cara untuk memantau aktivitas internet anak dan juga cara untuk membatasi/menyaring materi yang dapat diakses anak. Saat ini sudah ada program-program yang dapat digunakan untuk hal tersebut.

  1. Bimbing anak untuk menggunakan internet secara sehat

Untuk membimbing anak menggunakan internet dengan cara yang sehat, orangtua dapat mengajak anak untuk berdiskusi, memberikan masukan, pengarahan, dan pendampingan :

  • Beri pemahaman pada anak tentang materi-materi yang tidak boleh diakses, misalnya materi yang mengandung konten pornografi, kekerasan, dll. Bila ada kondisi di mana anak perlu mengakses materi tersebut, maka dampingi anak. Untuk inilah pentingnya keterbukaan komunikasi dan kedekatan dengan anak.
  • Bimbing anak mengenai cara berinteraksi yang baik dalam dunia maya. Seperti bagaimana menjaga privasi, bagaimana etika dalam berinteraksi di dunia maya, bagaimana sikap kita dalam menanggapi tulisan maupun komentar orang lain, dll.
  • Beri pemahaman pada anak tentang batasan informasi yang dapat dibagi di dunia maya. Misalnya tulisan, foto, alamat/lokasi, dll. Hal ini juga penting karena tidak sedikit kejahatan yang dilakukan melalui dunia maya. Ajari anak untuk membatasi dirinya mengungkapkan informasi pribadi dan keluarga yang mungkin dapat digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Dengan mengenali dan menyikapi internet secara bijak, kita dan keluarga dapat memetik manfaat positif dari kemajuan teknologi ini dan sebisa mungkin terhindar dari efek negatifnya. Selamat berselancar di dunia maya!