Parenting

Seminar “Optimizing The Right Brain”

Posted on Updated on

Pada 27 Februari lalu, RaQQi HDLC memberikan seminar “Optimizing The Right Brain” di SDIT Insan Mandiri Jakarta dan dipandu oleh Psikolog Irma Afriyanti. Psikolog Irma adalah psikolog anak lulusan Universitas Indonesia. Saat ini Beliau merupakan salah satu Konselor Menyusui dan Wakil Divisi Riset di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI ASI). Sebelumnya Beliau pernah bekerja sebagai Psikolog sekolah di SD Pantara, sekolah inklusif yang menangani anak berkebutuhan khusus seperti dyslexia, autism, ADHD, dan lainnya.

Pada kesempatan kemarin, Psikolog Irma menyampaikan materi mengenai perkembangan otak anak dan cara mengoptimalisasinya, terutama mengoptimalisasi otak kanan. Pada masa kini, anak – anak dituntut untuk think outside the box sehingga perkembangan otak kanan anak harus dioptimalisasi. Terdapat beberapa cara untuk dapat mengoptimalisasi otak, antara lain; pemenuhan kebutuhan nutrisi dan tidur, sistem pengajaran sesuai karakteristik anak, dan pengasuhan positif.

20160227_090554
Psikolog Irma bersama moderator
20160227_091732
Psikolog Irma menyampaikan materi di awal seminar
20160227_090941
Psikolog Irma melemparkan pertanyaan kepada audience
20160227_090900
Psikolog Irma berinteraksi dengan audience
20160227_094739
Audience fokus mendengarkan materi yang disampaikan
20160227_090727
Audience seminar “Optimizing The Right Brain”
20160227_111424
Psikolog Irma dengan Kepala Sekolah SDIT Insan Mandiri Jakarta
20160227_111440
Psikolog Irma dengan Ketua Pelaksana Seminar
20160227_112814
Psikolog Irma dengan panitia pelaksana seminar

 

Seminar “Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini di Era Digital”

Posted on Updated on

Pada hari Sabtu, 12 Maret 2016 kemarin, psikolog Ratih Zulhaqqi dari RaQQi HDLC memberikan seminar “Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini” di Open House Playgroup dan KinderGarten Quran Learning Centre School. Pada seminar itu, psikolog Ratih menyampaikan bahwa anak-anak pada masa kini menjalani kehidupan di dunia digital. Untuk itu, orangtua perlu mengetahui beberapa hal, yaitu :

  • Batasan usia dan waktu pemakaian gadget yang tepat
  • Dampak positif penggunaan gadget, salah satunya sebagai sarana pendidikam
  • Dampak negatif penggunaan gadget
  • Peran orangtua dalam mendampingi anak di era digital

 

IMG_8057

IMG_8058
Psikolog Ratih menyampaikan materi seminar
IMG_8060
Salah satu materi seminar
IMG_8064
Psikolog Ratih berinteraksi dengan audience
IMG_8069
Audience pada seminar “Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini di Era Digital”
IMG_8076
Sesi tanya – jawab

IMG_8083

IMG_8088
Psikolog Ratih berfoto bersama (ki-ka : Moderator, Direktur Akademik QLC, School Principle QLC)

 

Parenting dan Toddler

Posted on Updated on

( Oleh : Dhisty Azlia Firnady )

gmbarTugas pengasuhan orangtua saat anak berusia toddler (tahun pertama sampai ke-tiga) sangat penting dan memiliki efek jangka panjang terhadap perkembangan anak yang optimal, mengingat perkembangan anak usia toddler sangat berkembang dengan cepat. Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan pengasuhan anak usia toddler, yaitu:

1. Pengasuhan untuk perkembangan fisik

Orangtua harus memiliki energi lebih dan sigap, mengingat pada usia toddler anak mulai mengembangkan aktivitas motorik dan rawan cedera. Orangtua juga disarankan untuk memberikan sedikit batasan kecuali untuk kepentingan keamanan anak agar mereka dapat menjelajah lingkungan secara aktif.

Berbicara mengenai kepentingan keamanan, orangtua khususnya ibu harus memerhatikan beberapa hal, antara lain menutup colokan listrik menggunakan pengaman, menjauhkan kabel-kabel dari jangkauan anak, menjauhkan barang pecah belah dan hindari meletakkan barang pecah belah di atas meja, menutup tangga dengan pagar, memberikan pengaman sudut pada meja atau benda furnitur lainnya, berhati-hati dalam menanam tumbuhan, memisahkan sampah di tempat tersembunyi, dan menyimpan benda cair seperti sabun atau cairan pembersih lantai di tempat yang tidak dapat dijangkau anak.

2. Pengasuhan untuk perkembangan kognitif dan bahasa

Orangtua dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menyediakan supportive physical learning environment, yaitu proses pemberian pembelajaran tanpa memberikan banyak batasan-batasan agar anak dapat menjelajahi lingkungan secara bebas, mandiri, dan anak benar-benar dapat belajar dari lingkungannya. Selain itu, orangtua juga dapat menyediakan bahan permainan yang menarik dan tidak harus mahal, seperti bekas roll tissue, kardus bekas, dan bubble wrap. Hal yang terpenting adalah anak dapat mengembangkan kreativitasnya melalui alat permainan yang diberikan. Mengingat anak usia toddler sedang berada pada tahap sensorimotor (tahapan ketika anak mengenal diri sendiri dan lingkungan melalui aktivitas sensori-motor), sebaiknya alat permainan yang diberikan merupakan alat permainan yang dapat menstimlasi anak untuk melihat, mendengar, meraba, dan merasa.

Orangtua juga harus ingat bahwa perkembangan bahasa anak usia toddler sedang berkembang pesat. Orangtua harus memberikan atensi, arahan, dan feedback yang dapat meningkatkan kualitas bahasa anak. Permainan seperti cilukba, yymembaca buku bersama, bernyanyi, dan mengulangi suara anak juga diperlukan untuk mendukung perkembangan bahasanya dan menambah kosakata anak. Selain itu, di rentang periode toddlerhood, seorang anak mulai mengetahui beberapa kosakata, yang ditandai dengan naming explotion. Orangtua harus sering-sering melakukan labeling pada benda untuk menstimulasi bahasa anak. Orangtua juga dapat mendukung perkembangan bahasa anak dengan menambahkan kata-kata lain ketika anak berbicara, seperti ketika anak berkata “susu”, ibu dapat menambahkan “Abang mau susu”.

3. mom_language_social_skillsPengasuhan untuk perkembangan psikososial

Anak usia toddler sangat identik dengan “Terrible Twos” yaitu perilaku ‘menentang’ orangtua dengan sering mengatakan “Tidak”. Bagi sebagian orangtua, mereka cenderung berpikir bahwa mereka telah membesarkan seorang monster dan hal itu merupakan sebuah bencana, sehingga orangtua menjadi mudah marah dan tidak sabar. Padahal, orangtua harus mengetahui mengenai perkembangan anak toddler dan kebutuhan mereka. Toddler sedang mengembangkan kemandiriannya, sehingga pada usia tersebut kata-kata kesukaan mereka adalah “Tidak” dan “Saya”. Hal itu membuat orangtua harus memiliki kesabaran tingkat tinggi, kemampuan untuk mengatasi permintaan anak, dan memiliki kemampuan negosiasi. Orangtua juga harus memberikan perhatian, kesabaran, pengajaran, dan pengasuhan yang baik untuk anak. Selain itu, orangtua dapat menghindari pertanyaan yang akan membuat anak merespon secara negatif dan pertanyaan yang membuat anak memiliki opsi, seperti “Abang mau tidur sekarang?”, akan lebih baik jika ibu berkata “Abang kita harus tidur sekarang ya”.

Orangtua khususnya ibu yang memiliki anak toddler juga harus memberikan kehangatan seperti kedekatan fisik, mengingat anak usia toddler sedang berada di tahap “clear cut” attachment phase. Pada tahapan ini, anak serng mengalami separation anxiety atau cemas ketika harus berpisah dengan pengasuh, dalam hal ini orangtua. Hal itu dapat membuat anak merasa nyaman, tidak masalah jika ditinggal oleh orangtua, dan dapat menanggulangi masalah kecemasan berpisah dengan orangtua sehinggga hal itu tidak berlanjut menjadi gangguan perkembangan.

Sumber:

Berk, L. (2013). Child Development (ed. 9). United States of America: PearsonEducation, Inc.

 Cooper, C., Halsey, C., Laurent, S., Sullivan, K. (2008). Your Child Year by Year. London: Dorling Kindersley Limited.

Martin, C., Colbert, K. (1997). Parenting: a Life Span Perspective. United States of America: McGraw Hill Companies.