Archieves

Posted on

Manajemen RaqqiConsulting mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat muslim.

Website & email aktif kembali

Posted on

Berikut kami informasikan bahwa situs & email raqqiconsulting.com sudah aktif kembali, setelah down beberapa.

Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

TANTRUM

Posted on Updated on

(Oleh : Dhisty Azlia Firnady)

tantrumTantrum?

Tantrum atau temper tantrum merupakan masalah perilaku yang umum terjadi pada anak ketika mereka mengekspresikan kemarahan melalui luapan emosi dengan menangis, berteriak-teriak, berbaring di lantai, menendang, dan terkadang sampai menahan nafas. Hal itu sebenarnya merupakan hal alami dan biasa dilakukan anak, jika muncul pada usia seharusnya.

-Fetchs & Jacobson

Usia normal

Tantrum sendiri mulai terjadi pada anak usia 18-24 bulan dan akan berakhir ketika usianya beranjak hingga masa awal balita atau sekitar usia 4 tahun.

Mengapa terjadi?

Biasanya, tantrum terjadi ketika keinginan anak tidak terpenuhi. Selain itu, tantrum juga terjadi sebagai bentukrt pengungkapan perasaan anak karena anak usia dini belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengutarakan perasaan dan emosi mereka dengan tepat.

Tantrum juga memiliki kelebihan

Kabar baiknya, tantrum ternyata dapat membantu anak menghadapi perasaan frustasi dan membuat anak mampu menunjukkan emosinya saat ini. Tantrum juga memberi kesempatan bagi orangtua untuk mengatur emosi anak dan mengutarakan pendapat dengan cara membicarakan perasaannya ketika tantrum telah usai.

Namun…

Jika tantrum terus berlanjut sampai diatas batas usia wajar (4 tahun keatas), hal tersebut dapat menjadi suatu prediktor adanya kecenderungan ketidakmampuan anak dalam menyesuaikan diri. Selain itu, tantrum juga dapat membahayakan anak seperti ketika ia menendang-nendang dan ada barang berbahaya didekatnya, hal tersebut dapat melukai anak.

Bagaimana orangtua menyelesaikan tantrum?

gtCobalah untuk tetap bersikap tenang sampai anak selesai tantrum. Ya, hal tersebut merupakan hal pertama yang harus dilakukan orangtua ketika anak tantrum. Saat orangtua bersikap tenang di tengah-tengah luapan emosi anak, maka orangtua sebenarnya sedang mengajarkan anak bahwa perasaan-perasaan kuat tersebut tidak pelu ditakuti dan sebenarnya dapat dikendalikan. Selain bersikap tenang, usahakan tetap berada di dekat anak agar ia juga merasa aman. Salah satu peneliti di Amerika Serikat memberikan saran kepada orangtua agar mengabaikan anak namun tetap menggenggam anak dekat dengan orangtua, dan cobalah untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasanya tanpa merasa terganggu.

Setelah anak selesai tantrum dan sudah kembali tenang, orangtua dapat mencari alasan mengapa anak tantrum, keinginan apa yang tidak terpenuhi, dan bagaimana perasaan anak ketika tantrum dan saat ini. Lakukanlah diskusi dengan anak tanpa mengintimidasinya dengan membuka obrolan santai. Hal tersebut akan membantu orangtua memahami apa yang terjadi dengan anak sekaligus membantu anak menyalurkan apa yang ia rasakan dan inginkan.

NOTE! Hindari lah…

Hal yang perlu dihindari ketika anak tantrum adalah berunding dengan anak di tengah luapan emosinya karena ia tak akanchild-tantrum mampu menangkap apa pun yang orangtua katakan selama tantrum dan hal tersebut akan memperparah tantrum anak. Selain itu, hindari juga menunjukkan emosi marah dan bersikap kasar kepada anak, ia akan belajar bahwa perasaannya tidak dapat dikendalikan secara aman dan menjadi bingung terhadap perasaannya sendiri.

Satu hal penting lainnya yang harus dihindari untuk menenangkan anak tantrum adalah memberikan bonus seperti camilan manis dan menjanjikan membelikan sesuatu. Hal tersebut menunjukkan bahwa orangtua menyerah pada tantrum anak sehingga orangtua mengalihkan perhatian anak dengan memberikan solusi jangka pendek. Ia justru belajar bahwa tantrumnya berhasil membuat ia mendapatkan apa yang diinginkan sehingga orangtua dipastikan akan menghadapi lebih banyak tantrum lagi kedepannya.

Sumber:

Cooper, C., Halsey, C., Laurent, S., Sullivan, K. (2008). Your Child Year by Year. London: Dorling Kindersley Limited.

Fetch, R., Jacobson, B. (2014). Children’s Anger and Tantrums. Diakses melalui http://www.benevilla.org/wp-content/uploads/2013/10/2014-FRC-January-Newsletter.pdf

Koch, E. (2003). Reflections On a Study of Temper Tantrums In Older Children. Psychoanalitic Psychology, 20(3), 456-471. DOI: 10.1037/0736-9735.20.3.456.