Posted on Updated on

 

Bukan Tantrum, Tapi Meltdown

Oleh : Dhisty Azlia Firnady S. Psi

toddlertantrumstore
Illustration courtesy of Google

Saat anak menangis dan sangat susah untuk didiamkan, banyak orangtua yang mengira bahwa anak mereka sedang tantrum. Namun, ternyata tangisan atau kemarahan anak yang tidak dapat dihentikan terjadi tidak hanya karena tantrum saja. Meltdown, merupakan suatu perilaku yang serupa tapi tak sama dengan tantrum. Meltdown atau sensory meltdown adalah reaksi berlebih anak saat ia tidak sanggup menerima informasi sensori*) yang sangat banyak baginya. Hal ini biasanya terjadi ketika anak mengalami masalah sensori sehingga ia memiliki sensitifitas berlebih terhadap sesuatu seperti cahaya, suara, rasa dan tekstur makanan, sentuhan, atau keramaian.

Secara kasat mata, perilaku meltdown memang terlihat hampir sama dengan tantrum. Perilaku itu antara lain menangis dan marah tiada henti, melempar dan merusak barang disekitarnya, memukul, dan menendang orang yang ada disekitarnya. Namun, terdapat hal-hal yang dapat membedakan antara meltdown dan tantrum secara jelas, yaitu :

Meltdown

Tantrum

Perilaku muncul karena ada stimulus sensoris Perilaku muncul karena ingin sesuatu
Tidak ada goal Ada goal
Sulit mengomunikasikan yang ia rasakan & inginkan Mengomunikasikan apa yang ia inginkan
Tidak berpikir dan dapat membahayakan diri Perilaku terkontrol; berhati-hati agar tidak tersakiti
Tidak melihat respon Anda terhadap dirinya Melihat respon Anda terhadap dirinya
Diam jika stimulus sensoris hilang Diam saat keinginannya dipenuhi

Lalu, apa yang sebaiknya orangtua lakukan jika sekiranya melihat anak mengalami meltdown?

  • Perhatikan tanda-tanda non-verbal seperti gestur tubuh anak untuk mengenali penyebab meltdown. Adakah stimulus tertentu yang membuat anak gelisah? Contoh : Anak menutup telinga sambil menangis dapat mengindikasikan bahwa ia tidak mampu menerima stimulus suara ;  Anak melepeh makanan dan marah mengindikasikan bahwa ia tidak suka dengan rasa tertentu
  • Tenangkan diri Anda terlebih dahulu, Anda diharapkan tidak mudah terbawa oleh mood anak
  • Orangtua tidak disarankan untuk bertanya “Kamu kenapa?” dan meminta anak untuk diam. Mencoba berkomunikasi secara verbal dengannya tidak membantu anak untuk tenang, bertanyalah dengan baik saat anak sudah berhenti menangis
  • Hilangkan stimulus sensoris, contohnya seperti mematikan suara musik, mengganti jenis makanan, atau menjauh dari keramaian
  • Buatlah sebuah daftar mengenai hal apa saja yang berpotensi menyebabkan meltdown pada anak

So.. bagi para orangtua, mulailah untuk mencoba mengenali penyebab anak Anda menunjukkan perilaku menangis atau marah. Apakah hal itu merupakan reaksinya untuk ‘memanipulasi’ orangtua, atau sebuah respon berlebih atas informasi sensori yang membuat mereka tidak nyaman. Jika Anda merasa bahwa anak Anda mudah terganggu dengan cahaya, suara, keramaian, rasa dan tekstur makanan, atau sentuhan, dianjurkan untuk dapat berkonsultasi dengan psikolog.

 

*)Informasi sensori : Informasi yang diterima tubuh melalui panca indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan sentuhan) untuk diproses di otak.