Kemampuan Menunggu Pada Anak

Posted on

Oleh Dhisty Azlia Firnady S. Psi

dg

Pernahkah Anda mendengar tentang The Marshmallow Test?. Tes itu dilakukan oleh Walter Mischel PhD dan diujikan pada sekelompok anak. Pada tes itu, tim peneliti meninggalkan anak di sebuah ruangan dan menjelaskan pada anak bahwa jika dirinya dapat menunggu peneliti kembali, maka anak akan mendapatkan dua marshmallow. Jika anak tidak tahan menunggu peneliti, ia bisa membunyikan bel namun sang anak hanya akan mendapatkan satu marshmallow.

dg2

The marshmallow test sebenarnya bertujuan menguji delayed gratification seseorang, yaitu kemampuan mengontrol diri untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, pada The Marshmallow Test jika seorang anak dapat mengontrol dirinya untuk tahan menunggu sesuatu yang merupakan tujuan utamanya, maka ia akan mendapatkan hal yang lebih baik dan sesuai tujuan dibandingkan jika mereka tidak bisa menunggu. Kemampuan delayed gratification dibutuhkan seseorang agar mereka memiliki kemampuan manajemen emosi yang lebih baik, lebih sabar menunggu, melatih kedisiplinan, meningkatkan kontrol diri, bahkan kemampuan delayed gratification yang baik sejak anak-anak terbukti dapat menurunkan angka perceraian kelak ketika mereka sudah besar.

Untuk meningkatkan delayed gratification pada anak, Anda dapat melakukan beberapa hal, yaitu;

  1. Mark your calender, buatlah jadwal bepergian di kalender seperti jadwal berenang dan bertemu sanak saudara. Dengan hal itu Anda membantu anak ‘melihat’ hari-hari berlalu dan menyadari bahwa apa yang mereka tunggu-tunggu akan segera terealisasi.

    Frame with cartoon toys 2016 calendar
    Mark Your Calendar!
  2. Menabung juga dapat meningkatkan delayed gratification. Dengan menabung, anak akan belajar bahwa pada saatnya nanti celengan akan terisi penuh dan ia dapat menggunakan seluruh uang tersebut sesuai dengan keinginannya atau sesuai perjanjian yang telah dibentuk antara orangtua-anak. Saat menabung, orangtua dapat menjelaskan bahwa sebaiknya anak menunggu celengan sampai penuh baru menggunakannya. Jelaskan pada anak bahwa ia akan mendapatkan hal yang lebih baik ketika celengannya terisi penuh, misalnya “Kalau celengannya baru keisi setengah, abang hanya bisa beli lego mobil yang kecil. Tapi kalau tabungannya penuh, abang bisa beli lego robot yang lebih banyak isinya”.
  3. Kembangkan kemampuan menyelesaikan masalah dengan bermain “Bagaimana jika…”. Terkadang tidak semua rencana berjalan dengan baik. Anda dapat menggunakan permainan tersebut untuk melatih anak mengembangkan beberapa opsi solusi pada masalah yang ditemui. Contohnya permainan tersebut adalah “Kakak, bagaimana jika kita mau piknik besok, tapi besok turun hujan yang sangat deras?”. Jika anak Anda terasa bingung atau tidak memiliki jawaban, Anda boleh membantunya dengan memberikan beberapa contoh opsi di awal permainan.
  4. Kontrol impuls. Hal itu dapat dilakukan dengan bermain bersama, seperti bermain Simon says*). Permainan itu mengharuskan anak untuk mengikuti aturan yang diberikan oleh pemimpin sehingga anak belajar untuk mengontrol impuls dengan menunggu instruksi yang diberikan, mematuhinya, dan akan ada saatnya mereka yang menjadi pemimpin dalam permainan.

*) Simon says merupakan permainan yang terdiri dari dua orang/lebih. Salah satu pemain berperan sebagai Simon yang akan memberikan instruksi. Pemain lain akan mengerjakan instruksi yang diberikan Simon. Contoh : “Simon says… Maju ke depan dua langkah dan ke kanan satu langkah”; “Simon says… Jalan sambil jongkok!”. Namun, jika leader memberikan instruksi tanpa berkata “Simon says…” maka pemain lainnya tidak boleh mengikuti instruksi. Pemain dapat bertukar peran sesuai dengan perjanjian yang dibuat.

dg5

 

 

Pictures source : Google