Aku Tidak Mau Berpisah, Ma!

Posted on Updated on

( Oleh: Dhisty Azlia Firnady, S.Psi )

SEPARATION ANXIETY

“Merupakan perasaan sukar yang dirasakan anak ketika mereka harus berpisah dengan pengasuh utama (dalam hal ini khususnya orangtua)”.

– Robinson, Segal, dan Smith (2015)

Batas Usia

indexSeparation anxiety biasanya muncul di dua waktu. Pertama, ketika anak berada di usia 6 bulan dan puncaknya terjadi di usia 9 – 13 bulan. Hal itu muncul karena bayi mulai mengembangkan attachment*) yang sangat kuat dengan pengasuh utama, khususnya ibu. Attachment ini yang memandu anak menjadi sangat cemas saat mereka harus berpisah dengan pengasuh utama. Dalam hal ini, separation anxiety akan mulai berkurang saat anak berusia 2 tahun. Kedua, separation anxiety akan kembali terjadi lagi saat anak berusia 4 – 5 tahun. Biasanya hal itu terjadi karena anak mulai memasuki sekolah untuk pertama kalinya dan orangtua mulai meninggalkan anak untuk kembali bekerja.

Bentuk Perilaku

Pada dasarnya, anak-anak yang mengalami separation anxiety selalutr menyampaikan aksi protesnya secara eksplisit. Namun, penyampaian aksi protes ini yang sangat beragam tergantung dari usia dan karakteristik anak. Bagi bayi, aksi protes mereka biasanya disampaikan melalui tangisan yang tidak ada hentinya. Pada anak yang berusia toddler, aksi protes mereka biasanya disampaikan melalui tantrum, menolak pengasuh pengganti, dan/atau mengutarakan sejumlah alasan agar ia tidak ingin berpisah dengan orangtua.

Mengapa Anak Mengalami Separation Anxiety?

Separation anxiety memang hampir selalu terjadi pada anak-anak yang berusia 0 – 5 tahun pertama. Hal itu terjadi karena pada rentang usia tersebut anak sedang berada pada tahap perkembangan yang menuntut dirinya mengembangkan kepercayaan, attachment yang kuat kepada pengasuh utama, dan kemandirian.

What’s Normal and What’s Not?

gtBerbicara mengenai normal dan tidak, merupakan hal yang normal bagi anak Anda untuk merasa cemas saat akan berpisah. Hal yang perlu diketahui oleh orangtua adalah asalkan anak masih berada di usia yang sewajarnya dan aksi protesnya normal, seharusnya tidak ada hal yang perlu dicemaskan. Pada bayi dan toddler, aksi protes seperti menangis, tantrum, dan terus lengket dengan orangtua merupakan reaksi yang sehat saat mereka menghadapi perpisahan. Namun, pada beberapa anak yang bahkan sampai usia sekolah masih mengalami kecemasan saat menghadapi perpisahan. Jika aksi protes anak terhadap perpisahan terus berlanjut dan mengganggu aktivitas sehari-harinya seperti menjadi mogok sekolah, atau mengganggu pertemanannya, hal itu cenderung mengarah pada gangguan separation anxiety disorder. Gangguan itu merupakan masalah emosional yang cukup serius, ditandai dengan kesukaran yang ekstrim saat anak akan berpisah dengan orangtua.

Robinson, Segal, dan Smith (2015) mengatakan perbedaan utama antarafr separation anxiety yang sehat dan bermasalah terletak pada ketakutan anak. Pada anak yang mengalami separation anxiety disorder, ketakutannya akan menghambat aktivitas sehari-hari, seperti menolak pergi ke sekolah dan bermain dengan teman lain, pura-pura sakit untuk menghindari berpisah dengan orangtua, anak merasa takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada orangtua, mimpi buruk mengenai perpisahan, dan mengatakan sesuatu yang buruk terjadi padanya jika orangtua tidak berada dekat dengannya.

Bagaimana Cara Mengatasi Separation Anxiety?

  • Kenalkan perpisahan sejak dini

Tidak ada salahnya untuk mengenalkan anak dengan perpisahan sejak dini. Anda dapat meninggalkan anak dengan pengasuh pengganti untuk pergi ke toilet dan makan. Sesekali, Anda juga dapat mencoba meninggalkan anak dalam waktu dan jarak yang singkat, seperti meninggalkannya untuk belanja bulanan. Hal itu dapat melatih anak bahwa perpisahan sangat mungkin terjadi, namun pada akhirnya Anda akan kembali lagi ke hadapan mereka.

  • Kenalkan pengasuh pengganti pada anak

dgSebelum Anda meninggalkan anak dengan pengasuh pengganti (seperti nenek atau baby sitter), ada baiknya jika Anda mengenalkan anak pada pengasuhnya beberapa hari sebelum ia mulai tinggal dengan pengasuh tersebut. ‘Kenal’ disini bukan hanya mengenalkan nama pengasuh, namun usahakan agar anak dapat menerima sang pengasuh dan merasa nyaman jika bersama mereka. Selain itu, penting pula untuk memiliki pengasuh pengganti yang konsisten. Perlu diingat bahwa anak-anak membutuhkan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi dengan hal yang baru, apalagi dengan orang baru yang akan mengurus mereka. Dapat dibayangkan jika anak belum selesai beradaptasi dengan pengasuh A dan Anda mengganti pengasuh B, maka yang akan terjadi adalah anak memiliki kecemasan berpisah yang semakin tinggi dan ia tidak dapat membangun attachment yang nyaman dan kuat.

  • Ritual “Goodbye, see you again!”

Biarkan anak Anda mengetahui kepergian Anda dan tidak disarankanyt untuk mengumpat-ngumpat saat akan pergi. Hal itu justru akan menurunkan rasa kepercayaan anak dan justru akan membuat anak semakin lengket pada orangtua. Saat Anda akan pergi, Anda dapat membuat gerakan khas yang lucu, seperti toss bergelombang, cium pipi, dan kiss bye sebagai tanda bahwa Anda dan anak akan berpisah. Usahakan juga untuk selalu meminta izin pada anak dengan berkata bahwa Anda pergi dan akan kembali lagi, seperti “Mama pergi kerja dulu ya, nanti mama pulang ketemu kakak lagi” atau “Kakak sekolah dulu sekarang, mama nunggu di rumah. Nanti kalau kakak sudah selesai sekolah, mama jemput lagi”. Setelah melakukan ritual tersebut, pergilah walaupun anak Anda mulai merengek.

  • It’s your day, kiddos!

ftHal ini penting diterapkan, terutama bagi para working parents. Anda dapat membuat ‘perjanjian’ dengan anak bahwa dalam seminggu akan ada satu hari dimana Anda akan melowongkan waktu untuk menemani sang anak. Sebagai contoh, Anda memilih hari Sabtu sebagai it’s your day untuk anak karena Anda akan berada didekatnya pada hari itu. Hal ini penting agar anak paham bahwa tidak setiap hari ia harus berpisah dengan Anda. Seharian beraktivitas dengan anak juga dapat meningkatkan kualitas interaksi antara Anda dan anak, lho!

  • Usahakan tidak menyerah pada anak

Saat anak ‘pasang aksi’ bahwa mereka tidak ingin berpisah, usahakan tidak menyerah terhadap aksi mereka. Beberapa orangtua memilih untuk tidak jadi pergi atau membawa anak mereka pergi, mengizinkan anak untuk tidak masuk sekolah, atau memberhentikan pengasuh pengganti. Hal itu akan membuat anak menjadikan aksinya sebagai alasan untuk terus berada di dekat orangtua. Jika hal itu terjadi, anak tidak akan pernah belajar mengenai perpisahan dan mengikuti aturan. Selain itu, akan muncul pula masalah lainnya seiring dengan bertambahnya usia mereka.

  • Stay cool, mommies!

Saat anak mulai merengek, menangis, bahkan tantrum, usahakan untuk tetap tenang. Biarkan anak Anda mengekspresikan perasaan mereka. Selain itu, hindari memarahi atau membujuk mereka disaat mereka sedang ‘pasang aksi’. Saat anak melihat bahwa Anda tetap tenang dan diam ketika mereka bereaksi, mereka akan paham bahwa aksinya bukan merupakan hal yang rewarding dan tidak menarik perhatian Anda. Hal itu akan membuat mereka akan tenang dengan sendirinya.

  • Usahakan secepatnya ‘kembalikan’ anak ke sekolah (Bagi mereka yang mogok sekolah)

Dengan mengajak anak untuk kembali bersekolah, Anda sebenarnya telah membantu sang anak untuk membiasakan diri berpisah. Mereka akan paham bahwa mereka dapat tetap bertahan hidup walaupun harus mengalami perpisahan. Dengan bersekolah pula, Anda mendukung anak untuk beraktivitas dengan normal dan mereka dapat bersosialisasi dengan orang lain.

  • TIDAK ADA KEBOHONGAN !!!

Hal ini merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami. Saat akanhu meninggalkan anak, jujurlah pada mereka kemana Anda akan pergi dan waktu kepulangan Anda. Jika memang Anda akan pergi jauh dan pulang dalam waktu yang cukup lama, bukan menjadi masalah untuk berkata yang sebenarnya. Ketika Anda berbohong pada anak, cepat atau lambat ia akan memahami bahwa dirinya telah dibohongi. Hal itu justru akan membuat dirinya akan semakin terluka.

  • Meet The Professional

Jika Anda merasa bahwa masalah separation anxiety tidak kunjung selesai atau anak Anda mengalami masalah yang cukup serius dalam area ini, Anda dapat segera berkonsultasi pada tenaga ahli seperti psikolog anak.

*) Attachment adalah ikatan emosional berupa rasa percaya dan aman yang dirasakan anak terhadap orangtua (khususnya ibu) dan akan membentuk sebuat kelekatan emosional antar keduanya (Wyly, dalam Davis, 2009).