Remaja dan Parenting

Posted on Updated on

( Oleh: Dhisty Azlia Firnady, S. Psi )

tgMemiliki anak yang sedang berada di periode remaja memiliki tantangan tersendiri bagi sebagian besar orangtua. Secara umum, remaja adalah seseorang yang berada di rentang usia 12 – 21 tahun. Remaja yang kerap disebut anak baru gede, juga dikenal sebagai toddler stage of adulthood, atau tahap “batita” – nya orang dewasa. Seperti yang kita ketahui, anak yang berada di usia toddler atau batita sedang memiliki minat untuk menjelajahi dunianya untuk mencari pengalaman. Hal itu pula yang dilakukan anak baru gede ini, mereka untuk pertama kalinya mulai mencoba hidup mandiri sesuai dengan kemauan sendiri, terlepas dari bagaimana cara mereka berperilaku.

Anak baru gede ini pun merupakan anak-anak yang sedang berkembangyt menjadi orang dewasa. Terdapat gap karena mereka berada di masa ‘peralihan’. Masa itu lah yang sering terlupakan oleh orangtua, sehingga orangtua tidak sadar bahwa mereka mempertanyakan perubahan fisik dan mental yang terjadi pada anak mereka. Hal itu membuat kebanyakan orangtua menuturkan komentar bahwa sang anak menjadi susah diatur, semaunya sendiri, bahkan tidak jarang menjadi konflik. Perlu diketahui bahwa sebenarnya remaja tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya, bahkan terkadang mereka pun tidak bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan dan yang mereka lakukan. Sikap itu dilandasi oleh “Ingin bertindak seperti orang dewasa namun masih berpikir seperti anak-anak”.

huOrangtua terkadang pun menerapkan banyak aturan kepada remaja saat melihat anak mengalami perubahan. Tanpa disadari, aturan-aturan yang dibuat menyebabkan anak terlihat seperti “ikan besar dalam akuarium yang kecil”. Hal itu akan membuat anak merasa tidak diberikan kepercayaan dan kebebasan untuk menjelajahi dunianya sendiri, sehingga sering keluar perilaku yang tidak diinginkan, atau sering dikenal dengan sebutan perilaku “coba-coba”.

Dalam hal ini, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtuagt yang memiliki anak berusia remaja. Pertama, usahakan agar komunikasi selalu terjalin dengan baik. Komunikasi adalah kunci utama, orangtua dapat menjadi teman anak, sehingga anak tidak segan untuk terbuka dengan orangtua mengenai masalah yang ia temui. Kedua, jika anak menjadi sangat kritis dan tidak mengerti makna dari nilai yang dianut, hal terbaik adalah dengan mendiskusikannya. Dalam hal ini, orangtua dapat bersikap lembut namun tegas. Orangtua dapat membuka forum diskusi dengan anak, menjelaskan secara baik misalnya dari sisi religi atau norma yang berlaku, berikan pula contoh konsekuensinya jika anak tidak ingin melakukan hal yang sesuai dengan norma.

Ketiga, seperti yang telah diutarakan, saat anak beranjak menjadi seorang remaja maka untuk pertama kalinya mereka mulai mencoba hidup mandiri. Ingatlah bahwa hal itu baik untuk membangun identitas diri anak dengan cara yang baik. Jadi, biarkan. Berikan anak kebebasan dan kepercayaan untuk ‘mencicipitttt’ dan menjelajah dunianya. Keempat, percayalah bahwa Anda telah memberikan apa yang dibutuhkan anak selama 11 tahun ke belakang. Let go your control, biarkan anak Anda menjadi “ikan kecil di akuarium yang besar”. Kelima, remaja bukan lagi anak-anak namun bukan pula orang dewasa. Terdapat satu hal lagi yang tidak kalah penting. Anda sebagai orangtua harus tetap memegang peran. Ingatlah bahwa terlalu memanjakan dan tidak memberi ‘ruang’ akan membentuk pribadi anak yang tidak mandiri dan daya tahan yang lemah. Namun, terlalu melepaskan anak juga akan membuat mereka menjadi lepas kontrol.