Mendampingi Anak yang Mogok Sekolah

Posted on Updated on

( Oleh : Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog )

Seiring dengan pertumbuhan anak menuju dunia luar, masa-masa peralihan dapat menimbulkan ketegangan bagi anak. Ia cemas ketika jauh dari orangtua dan meninggalkan rumah yang aman. Kecemasan saat pertama kali masuk pra-sekolah atau Sekolah Dasar adalah wajar. Menjadi tidak wajar ketika anak menolak bahkan menghindari sekolah (school refusal/school avoidance), yang dikenal di masyarakat sebagai mogok sekolah.

Apa Itu School Refusal (Mogok Sekolah)?

    School refusal menunjukkan masalah emosional yang cukup serius, dimana anak akan melakukan apapun untuk menghindar dari bersekolahgt. Beberapa gejala fisik yang muncul (dikeluhkan) antara lain pusing, sakit kepala, berkeringat, gemetar, jantung berdebar-debar, nyeri dada, sakit perut, muntah, diare.

Kapan Munculnya?

     School refusal dapat terjadi saat anak pertama kali masuk TK, bahkan sejak masuk Kelompok Bermain. Kondisi ini umumnya terlihat setiap kali anak akan berangkat sekolah, namun dapat menjadi semakin parah ketika ia terlalu lama berada di rumah (libur panjang atau sakit). Anak-anak yang mogok sekolah umumnya sudah mulai mengeluhkan masalah fisik (sakit perut atau sakit lainnya) sejak Minggu malam. Mereka cemas menghadapi hari Senin yang akan datang.

indexApa Penyebab School Refusal?

      Kompleks. Dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor psikologis, biologis, dan sosiologis. Pada dasarnya, mogok sekolah adalah upaya menghindari situasi yang mencemaskan yaitu sekolah. Dengan tetap berada di rumah maka kecemasan berkurang dan anak merasa lebih baik (tenang, nyaman). Menurut para ahli, kecemasan adalah kombinasi faktor internal (karakteristik bawaan) dan eksternal. Contoh faktor eksternal: perubahan atau permasalahan dalam keluarga (pertengkaran, perceraian, perpindahan, kehilangan/kematian) serta permasalahan di lingkungan sekolah (bullying, pengalaman traumatis—seperti dimarahi guru).

Bagaimana Membedakan Anak Menolak Sekolah karena Cemas atau Nakal (bolos)?

      School refusal adalah kondisi emosi, dimana anak menghindari sekolah namun di sisi lain dia khawatir ketinggalan pelajaran sehingga saat di rumah tetap terlihat belajar/mengerjakan tugas sekolah. Bolos sekolah, yang mengarah pada kenakalan, dilakukan dengan sengaja. Anak yang melakukan kenakalan umumnya tidak berada di rumah saat bolos sekolah (melainkan pergi ke tempat lain), dan tidak mengalami kecemasan ataupun rasa bersalah karena tidak sekolah.

Apa Dampaknya Terhadap Keluarga?

       Jika anak Anda mogok sekolah, ia akan membutuhkan perhatian besar dari orangtua. Ia menginginkan banyak waktuer bersama orangtua sehingga Anda terpaksa izin/cuti kerja. Ia juga butuh diyakinkan (ditenangkan, dimotivasi) terus menerus. Harus bertengkar setiap pagi untuk membuat anak sekolah dan menghadapi amukannya tidak hanya menguras emosi tapi juga tenaga dan waktu Anda. Jika ia memiliki saudara, maka si saudara dapat merasa malu dengan perilaku saudaranya yang mogok sekolah (yang mungkin jadi pembicaraan di sekolah mereka). Si saudara juga bisa jadi iri dengan perhatian besar orangtua terhadap saudaranya. Ada kalanya ayah dan ibu berselisih tentang apa yang harus dilakukan dengan si anak yang mogok sekolah, bahkan mungkin saling menyalahkan atas masalah yang terjadi.

Adakah Dampak Jangka Panjangnya?

        Jika masalah mogok sekolah ini sudah berlangsung selama lebih dari 2 minggu, maka sudah saatnya mencari bantuan professional untuk mengatasinya. Penelitian NIMH (National Institute of Mental Health) menunjukkan bahwa jika tidak ditangani dengan tepat maka dampak jangka panjang mogok sekolah diantaranya: depresi dan gangguan kecemasan lain (misalnya gangguan kecemasan sosial), peningkatan penggunaan alkohol dan narkoba, meningkatnya risiko putus sekolah (SMA) dan risiko terlibat dalam perilaku kriminal.* Anak-anak yang mengalami kecemasan terhadap sekolah bisa mengalami kesulitan dalam proses perkembangannya. Mereka sulit mandiri meskipun sudah dewasa, terjebak dalam pekerjaan yang tidak mendukung perkembangan diri, dan berisiko tinggi mengalami masalah dalam hubungan interpersonal serta perceraian.

rtLalu, Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua?

  • Ajarkan anak tentang bagaimana menghadapi stress dengan cara yang sehat—jadilah contoh positif bagi anak
  • Jelaskan pada anak tentang stress dan ciri-ciri awal yang dapat dikenali (misalnya keluhan fisik, perubahan emosi)
  • Dengarkan anak saat ia menceritakan perasaannya, hindari kecenderungan menghakimi sejak awal
  • Bangun kepercayaan diri anak untuk mengatasi masalahnya secara mandiri—diskusikan alternatif penyelesaian masalah dan arahkan ia untuk mengambil keputusan, kurangi kecenderungan mengarahkan apa yang harus dilakukan
  • Buat anak merasa aman dan diperhatikan orangtua, dengan memberikan cinta, pujian, dukungan, struktur (aturan, batasan, konsekuensi)
  • Jadikan “Family Time” (waktu berkualitas bersama keluarga) sebagai prioritas, agar anak merasa dan meyakini bahwa dirinya penting di mata orangtua

Pada dasarnya, mogok sekolah menjadi pertanda bahwa anak sedang mengalami masalah dan membutuhkan Anda untuk membantunya menghadapi masalah—bukan menghindari. Kesabaran dan ketekunan Anda dalam mendampinginya di masa-masa sulit itu akan memberikan pesan positif, bahwa ia tidak sendiri dan lingkungan peduli padanya. Memang tidak selalu mudah, tapi percayalah dukungan Anda akan berbuah manis. Selamat berproses dalam mendampingi anak mengatasi masalahnya, dan ia akan berkembang menjadi pribadi yang lebih tangguh.

*Sumber: Mayer, Diane Peters. 2008. Overcoming School Anxiety. New York: AMACOM.