Menghadapi Si Kecil yang Susah Makan

Posted on Updated on

( Oleh : Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog )

eatingMakan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, maka tidak heran orangtua khawatir jika anaknya susah makan. Anda termasuk salah satu dari orangtua tersebut? Jika ya, maka langkah awal untuk mengatasi kekhawatiran Anda adalah dengan mengetahui penyebab si kecil susah makan. Penyebab susah makan sangat banyak, dan tiap anak bisa memiliki kasus yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk segera mendeteksi penyebabnya.

Hal pertama yang perlu dipastikan adalah faktor anatomis, yaitu memastikan kesehatan anak—misalnya kemampuan mengunyah dan menelan—dalam kondisi baik. Tidak ada salahnya memeriksakan si kecil ke dokter spesialis anak untuk memastikan hal ini. Jika ternyata setelah diperiksa tidak ditemukan masalah anatomis dan status gizi si kecil tergolong baik, maka saatnya melihat faktor lain seperti faktor lingkungan. Kehhluhan “susah makan” lebih sering dipengaruhi hasil persepsi atau penilaian dari lingkungan si kecil, terutama dari orangtua atau pengasuh.

Susah makan—atau dikenal dengan istilah picky eating—adalah ketika si kecil hanya makan sedikit, menolak mencoba makanan baru, menolak sekelompok makanan secara total, dan menunjukkan kesukaan pada jenis makanan tertentu saja. Anak yang sulit makan (picky eater) umumnya mulai dikeluhkan orangtua saat si kecil berusia antara 1-5 tahun. Kenapa? Karena pada usia tersebut sebenarnya si kecil mulai ingin menunjukkan kemandiriannya, termasuk dalam memilih makanan yang ingin ia makan. Dengan memahami bahwa fase tersebut sebenarnya adalah hal yang baik dan penting, maka orangtua perlu membantu si kecil mengembangkan keterampilan tersebut ke arah yang positif.

Lalu bagaimana cara mengakali si kecil yang tergolong picky eater? Berikut beberapa tips sederhana yang dapat Anda lakukan :

  • Berikan contoh makan yang sehat. Ingat, anak memiliki kemampuan untuk meniru apa yang dilihatnya dari lingkungan,fh termasuk kebiasaan makan kedua orangtuanya. Tunjukkan pada si kecil bahwa Mama dan Papa makan nasi, lauk, sayur dan tidak lupa buah.
  • Jika Anda ingin si kecil mencoba makanan baru, sajikan bersamaan dengan makanan yang sudah familiar baginya. Beberapa jenis makanan baru yang disajikan sekaligus dapat “mengagetkan” bagi si kecil. Ia butuh waktu untuk menerima hal baru dan beradaptasi.
  • Saat makan, beri kesempatan bagi si kecil untuk memilih makanan mana yang akan dimakan terlebih dulu, dan bukan memilih mana yang akan dimakan. Pastikan si kecil memakan semua yang disediakan. Misalnya: “Hari ini Mama masak ayam goreng crispy dan sup jagung. Adik mau makan nasi dan ayam dulu atau makan sup dulu? Ooh adik mau supnya dituang ke piring nasi, terus ayamnya dipegang dan gigit sendiri. Oke, Mama siapin ya.”

Sebagaimana disinggung sebelumnya, faktor lingkungan turut berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan si kecil. Entah si kecil sedang mengalami masalah makan atau tidak, secara umum penting untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan bagi anak. Suasana makan yang menyenangkan antara lain ditandai dengan adaddnya interaksi positif saat makan. Semoga tips-tips di bawah ini dapat memberi inspirasi untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan bagi si kecil, maupun bagi Anda. Seperti suatu kutipan, “makanan terasa lebih nikmat saat disantap bersama keluarga.

  1. Tentukan Batasan atau Aturan, misalnya :
  • Si kecil harus duduk saat makan (boleh di kursi makan khusus anak atau di bangku meja makan keluarga). Jika si kecil belum dapat bertahan duduk terlalu lama dan ingin berjalan-jalan, boleh saja berjalan sebentar (makanan tidak dibawa) tapi kemudian ajak si kecil duduk kembali. Mungkin di awal sulit dilakukan, tapi jika dilakukan berulang kali lama kelamaan si kecil akan belajar bahwa makan hanya boleh dilakukan dalam posisi duduk atau di meja makan. Batasan/aturan akan membantu si kecil dalam melakukan rutinitas, baik di rumah maupun sekolah.
  • Batasi waktu makan si kecil, 30-45 menit sudah lebih dari cukup. Harus bertahan duduk terlalu lama di proses makan dapat membuat si kecil merasa “tersiksa”.
  • Si kecil boleh bermain/nonton film favorit setelah selesai makan, atau boleh makan 1 keping kerupuk setelah 2 kali suap makanan (nasi-lauk-sayur).

2. Siapkan Kejutan, misalnya :

  • Minta si kecil menebak makanan yang ada di balik tudung saji. Anda dapat memberikan petunjuk-petunjuk kecil untuk membantunya menebak.
  • Anda dapat membuat variasi bentuk makanan agar lebih menarik, seperti roti tawar berbentuk pesawat, nasi berbentuk binatang dan dihias dengan lauk serta sayuran.

3. Libatkan Sentuhan, misalnya :

  • Jika si kecil suka mengemut makanan, Anda dapat mendekatkan telinga Anda ke mulut si kecil dan katakan “Mama ingin dengar deh gimana ya bunyinya kalau ikan goreng itu digigit adik.” Anda bisa minta si kecil melakukan hal yang sama secara bergantian.

4. Berikan Tantangan, misalnya :

  • Tantang si kecil untuk menghabiskan makanannya. “Ayo adik bisa habiskan roti tawarnya dalam berapa gigitan ya?” Jika berhasil menghabiskan sesuai jumlah yang disebutkan, beri pujian atau hadiah kecil baginya.
  • Tantang si kecil untuk memilih menu makan siang esok hari, membantu menyiapkannya (misalnya ikut berbelanja) dan memakan apa yang ia minta. Jika berhasil, maka ia boleh melakukannya lagi di hari tertentu (misalnya Selasa = menu adik, Kamis = menu kakak).

Selain melakukan berbagai trik dalam menghadapi masalah makan si kecil, penting bagi orangtua untuk memahami bahwa makan adalah salah satu proses belajar bagi anak. Dan sebagai orangtua, Anda perlu menghargai semua tahapan perkembangan si kecil agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Selamat berproses bersama si kecil.