Ajarkan Tanggung Jawab, Bangun Harga Diri (Self-Esteem)

Posted on Updated on

( Oleh : Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog )

ggSetujukah Anda dengan pernyataan ini: salah satu tugas sulit bagi orangtua adalah mengajarkan tanggung jawab pada anak? Apa itu tanggung jawab? Tanggung jawab dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir, menalar, merencanakan dan mengantisipasi dampak dari perbuatan yang dilakukan. Tanggung jawab dapat tercapai dengan membantu anak belajar konsekuensi, bukan dengan hukuman. Memang apa bedanya konsekuensi dan hukuman? Menurut Nancy Samalin—penulis buku Loving Without Spoiling—hukuman seringkali tidak efektif karena membuat anak merasa bersalah tapi tidak membantu anak mengubah perilakunya di lain waktu. Sedangkan, dengan pemberian konsekuensi, anak mendapat kesempatan untuk mengantisipasi dampak perilaku yang tidak diharapkan serta terlibat dalamyyyy perencanaan untuk mengubah perilaku tersebut.

Anak-anak belajar tentang aturan-aturan dalam hidup melalui interaksi dengan orangtua, saudara, dan teman sebaya. Lingkunganlah yang mengajarkan apa yang baik-buruk, apa yang dapat diterima (pantas) dan tidak dapat diterima (tidak pantas). Lalu, apa yang perlu dilakukan orangtua? Dalam suasana rileks, ajak bicara anak Anda tentang aturan-aturan yang berlaku di keluarga maupun di lingkungan sosial lainnya, alasan di balik aturan tersebut, serta dampaknya jika aturan dilanggar (misalnya bagaimana perasaan orang lain). Dengan adanya penjelasan, akan membantu anak memahami perilaku yang diharapkan darinya dan mengapa penting untuk dilakukan. Maka anak patuh bukan karena takut, melainkan karena paham manfaatnya dan dampaknya bagi orang lain.

Berikut contoh upaya seorang ibu ajarkan konsekuensi kepada anaknya yang suka mengeluh lldan menunda-nunda setiap kali diminta bereskan buku/barang yang berserakan di meja belajar.

Mama : Abang, tahu nggak kenapa Mama ingetin terus untuk beresin meja belajar habis kerjakan tugas-tugas?

Anak     : Yaa, karena Mama cerewet sukanya marah-marah

Mama  : Hmmm… kalau misalnya meja belajarmu berantakan kira-kira apa yang akan terjadi ya kalau kamu buru-buru cari buku yang harus dibawa ke sekolah?

Anak     : Yaa… jadi lebih lama carinya. Susah ketemunya.

Mama  : Waah kalau lama carinya nanti bisa terlambat berangkat sekolah dong ya? Belum lagi kalau nggak ketemu bukunya. Apa yang akan terjadi kalau kamu terlambat ke sekolah dan ada buku yang nggak dibawa? 

Anak     : Kalau telat nggak boleh masuk kelas. Kalau nggak bawa buku nanti dikasih tugas tambahan sama guru

Mama  : Hmm… jadi beresin meja belajar itu buat keuntungan siapa ya?

Anak     : Aku dong ya, Ma? Hehehe…

Bagi anak yang berusia lebih kecil, konsekuensi dan tanggung jawab dapat dijelaskan secara sederhana dengan menyampaikan hubungan antara tugas dan manfaatnya. Contohnya, “kalau sudah selesai minum tolong taruh gelasnya di meja ya supaya tidak ketendang dan tumpah airnya” atau “tolong simpan mobil-mobilan kamu di kotaknya supaya tidak ada yang hilang kalau besok mau main lagi.” Jangan lupa berikan apresiasi (pujian, ucapan terima kasih) ketika anak menampilkan perilaku yang diharapkan, dan tetap berikan dukungan ketika ia belum mampu menampilkan dengan tepat perilaku yang diharapkan.

Apresiasi dan umpan balik positif dari lingkungan akan memunculkan perasaan positif serta penilaian diriff positif pada anak, yang penting dalam pembentukan self-esteem (harga diri). Harga diri harus dibangun dan terus dipupuk. Sesungguhnya, Anda dapat membangun dan memupuk harga diri anak hari demi hari. Bagaimanakah caranya? Dalam satu hari coba temukan setidaknya satu kesempatan untuk menyatakan kepada anak bahwa dia adalah sumber kebahagiaan dan kebanggaan bagi Anda. Syaratnya, sampaikan pujian yang spesifik! Contohnya “lihat adik ikutin abang beresin mainan, terima kasih ya sudah kasih contoh yang baik” atau “wah rajin sekali kamu sudah kerjakan PR dari bu guru padahal Mama baru mau tanya ada PR apa.” Agar pesan cinta Anda lebih nyata lagi, bisa juga berikan kartu ucapan kepada anak berisi hal-hal apa yang paling Anda sukai dari dirinya. Tidak harus menunggu hari ulang tahunnya atau hari Kasih Sayang untuk memberikan pesan cinta kepada si buah hati.

tttSekali lagi, tidak perlu biaya besar dan waktu khusus untuk menumbuhkan perasaan dan penilaian positif pada diri anak. Dengan meluangkan waktu untuk berkegiatan bersama, memperhatikan kegiatan anak dan memberikan pujian yang spesifik sesungguhnya Anda telah menunjukkan bahwa dirinya berharga dan istimewa bagi orangtua. Tidak sulit bukan? Selamat mengajarkan tanggung jawab dan membangun harga diri pada buah hati tercinta.