MENDAMPINGI ANAK MASUK LINGKUNGAN BARU

Posted on Updated on

( Oleh : Ratih Zulhaqqi, M.Psi, Psikolog )

temperament1Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal menyesuaikan diri dengan orang dan lingkungan yang baru. Perbedaan tersebut yang akan membuat anak terlihat mudah atau sulit ketika masuk ke situasi yang asing bagi mereka. Keterampilan anak dalam beradaptasi turut dipengaruhi oleh jenis temperamen yang mereka miliki. Apakah itu temperamen? Temperamen adalah salah satu aspek dalam kepribadian seseorang dan setiap anak akan mewarisi salah satunya untuk kemudian dijadikan karakter menetap dalam diri. Pada anak-anak temperamen dapat digambarkan sebagai cara yang unik untuk merespon stimulus dan dimunculkan dalam bentuk perilaku. Terdapat tiga jenis temperamen yang ditampilkan anak yaitu easy child, slow to warm up child dan difficult child. Untuk sukses mendampingi anak dilingkungan baru maka orangtua harus mengidentifikasi jenis temperamen yang dimiliki oleh anak-anaknya sehingga cara yang dilakukan tepat dan sesuai kebutuhan anak serta anak akan mebentuk interaksi yang berkualitas di lingkungannya.

Berikueasy child2t adalah penjelasan masing-masing temperamen anak dan tips yang dapat dilakukan oleh orangtua ketika anak masuk ke lingkungan baru. Temperamen yang pertama yaitu easy child, anak dengan temperamen ini sudah dapat dipastikan akan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru yang akan dimasuki. Ia akan dengan cepat membaur dan berinteraksi dua arah tanpa merasa canggung atau malu. Biasanya anak dengan temperamen easy akan memiliki pembawaan yang ceria, enerjik dan menyenangkan. Dengan demikian, para orangtua dengan anak-anak yang memiliki temperamen easy tidak perlu merasa khawatir akan kemampuannya masuk lingkungan baru. Namun, tetap disarankan melakukan pendampingan untuk mengajarkan anak bagaimana menjalin interaksi secara tepat dan dengan orang-orang yang tidak memiliki potensi negatif terhadap anak. Karena sikap supel yang dimiliki anak dengan temperamen easy ini akan menjadi peluang dimanfaatkan oleh lingkungan.

Temperamen yang kedua adalah slow to warm up atau saya biasa menyebutnya sebagai mesin diesel yang membutuhkan waktu untuk “panas” dan bekerja secara optimal sesuai kemampuan. Anak-anakslow to warm up dengan temperamen seperti ini pada dasarnya mampu berinteraksi dan membaur dengan lingkungan yang baru, namun terkadang mereka membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan anak-anak dengan temperamen easy. Hal yang perlu dilakukan oleh orangtua sebagai bentuk pendampingan adalah memberikan informasi secara detil mengenai kondisi dan situasi lingkungan yang akan dimasuki dan dengan siapa saja kemungkinan ia akan berinteraksi serta bagaimana bentuk interaksi atau kegiatan yang akan dilakukan. Setelah penjelasan-penjelasan tersebut disampaikan, ada satu hal yang paling penting diantara semua itu yaitu datanglah lebih awal ke tempat yang dituju (misal sekolah, tempat ulang tahun dll) sehingga anak-anak memiliki waktu untuk “memanaskan” diri terlebih dahulu sebelum mulai berinteraksi. Hal yang dilakukan oleh anak-anak dengan temperamen slow to warm up ketika memanaskan diri adalah mengamati semua hal yang ada dilingkungan baru tersebut sampai ia merasa nyaman dan siap berinteraksi.

Temperamen yang ketiga adalah difficult child atau anak yang cenderung sulit berinteraksi dan terkadang mdifficult childenolak untuk berinteraksi. Anak-anak dengan temperamen seperti ini akan merasa bahwa lingkungan yang akan ia masuki sebagai ancaman atau membahayakan sehingga ia lebih sering bersembunyi dibelakang tubuh ibunya atau menangis sehingga tidak mau bergabung dengan anak-anak lain. Orangtua dapat melakukan beberapa hal sebagai pendampingan yaitu menemani anak untuk berinteraksi dengan lingkungan namun tidak memaksa anak untuk menyapa anak lain. hal lain yang dapat dilakukan adalah melatih kemampuan sosial (social skill) anak dalam aktifitas sehari-hari seperti memberikan kesempatan anak untuk berinteraksi secara natural contohnya membayar belanjaan di kasir, memesan makanan di restoran dll. Jika orangtua merasa kesulitan dalam melakukannya maka dapat menemui psikolog anak untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Selamat mendampingi anak untuk masuk ke lingkungan baru J

*ditulis dan diterbitkan untuk majalah Commitment Vol 5*