Menghindari Teman Makan Teman

Posted on Updated on

( Oleh : Bramantyo Adi, S.Psi )

“A friend is one that I knows you as you are,

Understands where you have been,

Accepts what you have become, and still,

Gently allows you to grow.”

  • William Shakespeare

Teman adalah individu yang kita temui hampir setiap hari setelah keluarga. Pertemanan bisa terbentuk karena situasi, lokasi, kegiatan atau kesamaan hobi/minat. Bersama teman kita berbagi banyak hal, menikmati waktu bersama, sampai meminta bantuan jika mengalami kesulitan. Terkadang, mereka bisa mengesalkan tetapi bukan menjadi masalah besar. Pertemanan memiliki banyak istilah, salah satunya adalah TMT alias Teman Makan Teman.

TMT sering disingkat menjadi MT (Makan Teman). TMT sebagai istilah mendeskripsikan individu yang cuci-tangan dan memanfaatkan keadaan dalam hubungan pertemanan (Kompasiana.com, 2011). TMT bermaksud mengkhianati/merugikan teman sendiri dalam konteks apapun dari pertemanan, percintaan, bisnis, pribadi (Yahoo! Answers, 2008). Dari dua pemahaman tersebut, istilah Teman Makan Teman mengarah kepada individu yang bermaksud memanfaatkan secara negatif, mengkhianati, merugikan teman sendiri dalam konteks apapun (pertemanan, percintaan, bisnis, pribadi).

Menurut pendapat ahli seperti Beverly Fehr (dalam Miller, 2012) mendefinisikan pertemanan adalah kesukarelaan, hubungan personal, pada umumnya menampilkan keakraban, bantuan antara dua individu atau pihak. Pertemanan dalam psikologi termasuk dalam intimate relationships. Pertemanan dalam pendapat Miller (2012) tidak terlalu mengedepankan emosi yang mendalam, lebih inklusif (kebalikan dari hubungan percintaan yang lebih eksklusif). Jika kembali ke istilah Teman Makan Teman yang ada, tampak bertolak belakang. Pertemanan bersifat sukarela sementara TMT bersifat memanfaatkan mengkhianati, merugikan teman sendiri.

Pada dasarnya dalam pertemanan tidak mengenal “mantan teman”. Begitupun tiap individu tidak berharap dalam pertemanan sampai mengalami TMT. Teman adalah individu yang memiliki variasi. Seiring pertemanan berkembang karena meningkatnya interaksi sehari-hari di kantor, sekolah, lingkungan. Ada baiknya memperhatikan beberapa komponen pertemanan milik Miller (2012) yang diharapkan menghasilkan pertemanan akrab dan menghindari TMT.

Rasa hormat (Respect)

Ketika individu menghormati individu lain, mereka juga saling mengagumi dan menghargai satu-sama lain. Adapun beberapa hal yang bisa menguatkan rasa hormat dalam pertemanan menurut Frei & Shaver (Miller, 2012) yaitu penerimaan, kejujuran, keinginan saling mendengarkan.

Kepercayaan (Trust)

Kepercayaan terhadap teman termasuk percaya mereka akan memperlakukan kita dengan baik. Kepercayaan dalam pertemanan membutuhkan waktu untuk tumbuh dan menjadi utuh. Kepercayaan membuat individu dalam pertemanan merasakan nyaman dan rileks. Kepercayaan bisa pulang menghilang karena pengkhianatan oleh teman sendiri, Miller & Rempel (dalam Miller, 2012) mengungkap kepercayaan yang sudah runtuh dalam pertemanan akan sulit dipulihkan.

Capitalization

Istilah capitalization memiliki arti saat berbagi kabar gembira dengan teman kemudian mendapat respon antusias akan meningkatkan keakraban antar teman. Secara umum, teman pasti berbahagia akan kesuksesan kita dan respon kebahagiaan teman akan memberi makna mendalam pada kesuksesan. Pertemanan yang memuaskan didalamnya ditemukan frekuensi capitalizations yang sering dibanding yang tidak.

Dukungan Sosial (Social Support)

Dalam masa-masa sulit, seseorang akan bergantung pada teman untuk melewatinya. Dukungan sosial salah menjadi salah satu komponen dalam pertemanan. Barry et al. (dalam Miller, 2012) dukungan sosial dari teman yang kita terima bisa dalam empat bentuk: dukungan emosional (emosi, penerimaan, penghiburan), kenyamanan fisik, dukungan berupa saran, nasihat; bantuan seperti barang atau uang. Keempat bentuk dukungan sosial tersebut berasosiasi dengan kepuasan dalam hubungan pertemanan dan kesejahteraan pribadi individu seiring berjalannya waktu menurut Barry et al. (dalam Miller, 2012).

Tanggap (responsiveness)

Dari keempat karakter sebelumnya, rasa hormat, kepercayaan, capitalization, dukungan sosial, terdapat satu komponen penting yaitu tanggap (responsiveness). Reis (Miller, 2012) mendefiinikan responsiveness adalah perhatian teman pada kebutuhan dan minat kita.

Kelima komponen pertemanan Miller tersebut tentu bertolak belakang dengan istilah Teman Makan Teman yang menjadi variasi pada hubungan pertemanan keseharian. TMT adalah bukti variasi individu dalam hubungan pertemanan. Ketika mengalami TMT hendaknya ditinjau lagi jalannya pertemanan menurut komponen Miller. Karena pada dasarnya dalam berteman, kita akan mendorong diri kepada teman yang membuat kita merasa berharga, utuh, dan dipahami.

Kesimpulan yang bisa ditarik adalah teman merupakan individu tempat berbagi suka, duka, nilai individu. Terdapat istilah Teman Makan Teman yang mengacu pada individu dengan tujuan merugikan, memanfaatkan temannya sendiri. Hal ini tidak sesuai dengan definisi pertemanan yang bertujuan mengakrabkan dan memberi bantuan satu sama lain. Pada dasarnya dalam pertemanan tidak mengenal mantan teman. Namun dalam tiap pertemanan ada potensi TMT. Potensi TMT bisa dihindari melalui komponen pertemanan milik Miller terdiri dari: rasa hormat, kepercayaan, capitalization, dukungan sosial, tanggap (responsiveness). TMT adalah bukti variasi individu, jika sudah mengalami. Hendaknya individu perlu melihat kembali jalannya pertemanan menggunakan kelima komponen Miller. Karena pada dasarnya, kita akan mendorong diri kepada teman yang membuat kita merasa berharga, utuh, dan dipahami.

 

Referensi

Kompasiana.com. (2011, 10 16). TMT alias Teman Makan Teman. Retrieved from Kompasiana.com: http://www.kompasiana.com/nunuk/tmt-alias-teman-makan-teman_550f6c33813311d334bc6063#

Miller, R. S. (2012). Intimate Relationships. Singapore: McGraw-Hill .

Yahoo! Answers. (2008, 11 19). Yahoo! Answers. Retrieved from https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081119045114AAzBeO4