Anda Ingin Menjadi Orangtua Seperti Apa? (Bagian #1)

Posted on Updated on

( Oleh : Febiana Pratomo, M.Psi, Psikolog )

“Love must be fed and nurtured… First and foremost, it demands TIME.”

-David Mace-

Waktu menjadi investasi penting dalam proses menumbuhkan (menguatkan) cinta dalam suatu hubungan, termasuk hubungan orangtua dan anak. Meluangkan waktu untuk merefleksikan interaksi Anda dengan anak adalah salah satu tindakan sederhana namun bermanfaat bagi keluarga Anda.

Dalam bukunya “The Parent You Want To Be”, pakar hubungan Drs. Les & Leslie Parrott merangkum 10 karakteristik personal yang ingin dimiliki para orangtua (dan calon orangtua). Ajukan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini pada diri Anda, lalu coba pikirkan hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk semakin mendekati karakteristik tersebut.

  1. Apakah Anda Orangtua AFIRMATIF?

Berikan pujian yang menjadi kebutuhan—makanan jiwa—bagi anak. Pujian realistis terhadap apa yang anak lakukan tidak membuatnya besar kepala. Sebaliknya, afirmasi yang disampaikan dengan tulus akan menunjukkan bahwa Anda memperhatikan, mencintai, dan menghargai anak Anda. Contoh afirmasi atau pernyataan positif: “Terima kasih ya sudah berbagi kue dengan adik. Bunda bangga deh!” atau “Papa nggak sabar mau pulang kantor, main sama kakak bikin Papa senang!”

  1. Apakah Anda Orangtua yang SABAR?

Orangtua yang sabar mencoba melihat dari sudut pandang anak. Terkadang harapan orangtua melebihi kemampuan anak sesungguhnya, sesuai tahapan perkembangan mereka. Anda perlu menyesuaikan tuntutan dengan kenyataan. Misalnya, anak Anda yang berumur 5 tahun masih berusaha mengikat tali sepatu dan Anda gelisah karena harus segera pergi. Jika Anda mengikatkan talinya bisa lebih cepat selesai dan segera berangkat. Tapi Anda menyadari bahwa kemampuan mengikat tali sepatu akan membuatnya mandiri dan lebih percaya diri. Anda dapat mendukungnya dengan memberi waktu lebih lama untuk bersiap-siap agar tidak terburu-buru dan membuat Anda kurang sabar. Agar tetap tenang saat frustrasi, tarik nafas, hitung sampai 10, ulangi bila perlu.

  1. Apakah Anda Orangtua ATENTIF?

Secara sederhana, atentif berarti memperhatikan. Perhatikan kenyamanan dan kebutuhan anak, perilaku nonverbalnya (gestur tubuh). Anak tidak selalu dapat mengekspresikan dirinya secara gamblang, ada kalanya sikap atau perilaku mereka lebih jujur daripada ucapan mereka. Cobalah untuk “mendengarkan” apa yang tidak dikatakan oleh anak—perasaan, keinginan, ketakutan mereka. Temukan cara halus dan bermakna untuk menunjukkan kepada anak bahwa Anda memahaminya dan mencintainya. Selipkan kejutan di tas anak ketika melihat ia kurang bersemangat atau cemas menjelang ujian. Makanan kesukaan dengan secarik kertas bertuliskan kata-kata penyemangat atau ungkapan rasa sayang Anda akan mencerahkan harinya.

  1. Apakah Anda Orangtua VISIONER?

Orangtua visioner mencoba bayangkan gambaran masa depan anak—apa yang ingin ia lakukan, ingin menjadi apa—tanpa berusaha memaksakan gambaran pribadi Anda tentang masa depan anak. Diperlukan kemauan dan keterbukaan untuk mengenali bakat/potensi, keunikan dan mimpi-mimpi anak Anda. Pupuklah masa depannya dengan membantu mewujudkan apa yang ingin ia lakukan dan mengapresiasi apa yang ia lakukan, misalnya berkomentar “Abang kelihatannya senang sekali ajarin adik berhitung, apa kalau sudah besar Abang mau jadi guru?”

  1. Apakah Anda Orangtua yang TERHUBUNG?

Dibutuhkan upaya untuk membangun ikatan (bonding) antara orangtua dan anak, utamanya melalui komunikasi. Ciptakan pengalaman-pengalaman yang dapat meningkatkan bonding misalnya melakukan kegiatan yang sama-sama Anda dan anak Anda nikmati. Prinsip umumnya, kita merasa paling terhubung ketika menemukan kesamaan dengan orang lain—berlaku juga untuk hubungan anak dan orangtua. Ketika Anda memiliki kesamaan dengan anak, hati Anda terhubung dengannya.