Autisme Dan Berkuda

Posted on Updated on

( Oleh : Dhisty Azlia Firnady )

“Anak saya dulu masih normal,tapi sekarang sering diam,tidak memperhatikan,susah untuk berkomunikasi sama saya”

“ Anak saya suka aneh tingkah lakunya, apa dia autis ya?”

Kata-kata Autism atau Autis kerap sekali terdengar di masyarakat umum. Biasanya orang tua yang memiliki anak yang berusia diatas dua tahun dan memiliki beberapa gangguan pun kerap bertanya “Apakah anak saya autis?”. Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autism adalah kekacauan berat dalam perkembangan, bercirikan adanya abnormalitas dalam fungsi sosial, bahasa dan komunikasi, juga adanya perilaku dan minat yang tidak biasa (Mash & Wolfe, 2010).

Untuk mendiagnosa apakah seorang anak memiliki kecenderungan ASD, orangtua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak terlebih dahulu. Adapula kriteria diagnostik ASD dari ‘Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V)’, yaitu;

  1. Adanya defisit dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial secara persisten dalam konteks apapun,
  2. Pola gerakan, minat, dan aktivitas yang terbatas dan berulang,
  3. Simptom-simptom harus ditunjukkan saat anak berada dalam periode perkembangan awal,
  4. Simptom-simptom secara klinis menyebabkan kerusakan yang signifikan dalam kehidupan sosial, pekerjaan, atau area kehidupan penting lainnya,
  5. Gangguan ini tidak disebabkan oleh intellectual disability (ID) atau keterlambatan perkembangan.

Anak yang menyandang ASD tentunya dapat diberikan beberapa program dan terapi untuk memaksimalkan fungsi kehidupannya. Beberapa treatment dapat diberikan kepada anak-anak dengan kecenderungan ASD, seperti behavior modification, speech therapy, dan beberapa metode belajar lainnya (Mash & Wolfe, 2010). Namun, ada satu cara alternatif yang dapat diberikan kepada anak dengan kecenderungan ASD yang masih belum banyak diketahui. Therapeutic Riding namanya.

Therapeutic riding merupakan sebuah terapi yang dikhususkan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang melibatkan kuda dalam aktivitas terapi guna menstimulasi aspek kognitif, fisik, emosional, dan social well being seseorang dengan disabilitas (pathintl.org). Selby dan Osborne (2013) mengatakan terapi ini sangat erat hubungannya dengan human-equine bond dan sangat potensial memberikan manfaat dalam hal pembinaan hubungan, rekreasional, pengembangan kemampuan, terapi sekaligus exercise, dan pengembangan beberapa aspek psikososial lainnya.

Mengapa harus Therapeutic riding? Orang tua perlu tahu bahwa terdapat beberapa keuntungan yang akan anak dapatkan. Pertama, keuntungan fisik yang didapatkan dari gerakan selama terapi. Tentunya terapi ini tergolong olahraga, sehingga anak menyalurkan energinya melalui aktivitas terapi sambil berkuda. Kedua, keuntungan psikologis dan sosial didapat dari rasa senang yang ditimbulkan saat anak bertemu dan menunggangi hewan tersebut. Kondisi afek dan perasaan anak otomatis akan semakin positif.

Adapula keuntungan kognitif saat instruktur memberikan arahan tentang tugas-tugas yang harus anak lakukan di atas kuda. Keuntungan rekreasional pun dapat diperoleh anak ketika ia berada diatas kuda (Selby dan Osborne, 2013). Anak dengan kecenderungan ASD juga dapat dilatih untuk lebih adaptif terhadap perubahan. Pada anak ASD, biasanya setelah beberapa kali ia menaiki kudanya, kuda akan diganti dengan kuda baru yang sama capable untuk dirinya (HETI, 2013).

Dalam terapi ini, terapis bersama dengan instruktur pun dapat menyelipkan Behavior Modification didalamnya. Contohnya adalah seorang instruktur asal Amerika memiliki klien dengan ASD akut, pada awal sesi si anak susah sekali fokus dan menaruh atensi pada instruktur. Kemudian instruktur menggunakan clicker saat ia ingin si anak menaruh atensi pada dirinya. Instruktur akan membunyikan clicker sebanyak 1x dan si anak harus melihat kearah dirinya dari atas kuda. Bayangkan saja, dalam satu kegiatan terapi anak mendapatkan dua pelatihan. Efektif bukan?

Kegiatan yang biasa dilakukan dalam satu sesi terapi ini dibagi menjadi tiga bagian; pra on horse, on horse, pasca on horse. Sebelum menunggang kuda biasanya anak diajak untuk grooming atau membersihkan dan menyiapkan kuda. Di bagian ini diharapkan anak dapat membentuk bonding yang kuat dengan kudanya.

Pada bagian on horse, disinilah inti dari terapi dilaksanakan. Di awal atau selama kegiatan, biasanya kuda harus terus berjalan agar anak dapat merasakan body movement kuda tersebut. Kegiatan bisa berupa vaulting games dan educational games yang dilakukan diatas kuda. Kegiatan ini mengharuskan anak fokus, memberikan atensi pada instruktur, dan merangsang anak untuk lebih aktif berkomunikasi dengan instruktur. Pada bagian pasca on horse biasanya anak akan mendapatkan relaksasi diatas kuda dengan dibawa berjalan keliling stable. Walaupun begitu, dalam satu sesi latihan tidak diharuskan ketiga bagian tersebut harus dilakukan semua. Instruktur akan mempertimbangkan dan merancang kegiatan sesuai dengan kondisi dan kapabilitas sang anak.

Soal keamanan si anak, orang tua pun tidak perlu khawatir. Dalam satu sesi, akan ada empat orang dalam satu tim yang akan menjaga si anak. Instruktur, horse leader, dan dua side walker. Orang tua pun tak perlu khawatir masalah kuda. Stable yang menyediakan fasilitas terapi berkuda ini tentunya sudah menyiapkan kuda-kuda andalan yang safety untuk ditunggangi oleh anak berkebutuhan khusus. Terdapat beberapa standar dan prosedur internasional dalam memilih kuda mana dan perlatan apa yang aman dan pas untuk anak.

Perlu diperhatikan bahwa therapeutic riding ini tidak dikhususkan untuk anak dengan kecenderungan ASD saja. Anak dengan disabilitas apapun dapat melakukan terapi dengan kuda. ADHD, cacat fisik, intellectual disability (ID), learning disability/disorder, emotional disorder, epilepsi, dan disabilitas lainnya tentu saja dapat diminimalisir dengan terapi berkuda ini.

A disability does not have to limit a person from riding horses.”

– PATH International

Sumber:

American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (5th ed.). USA: American Psychiatric Association.

The Federation of Horses in Education and Therapy International / HETI (2013). Handbook for Instructor Sertification Course for Therapeutic Riding.

Mash, E., Wolfe, D. (2010). Abnormal Child Psychology (4th ed.). Belmont, USA: Wadsworth Cengage Learning

N.N Learn About Therapeutic Riding. Diakses melalui http://www.pathintl.org/resources-education/resources/eaat/198-learn-about-therapeutic-riding

Selby, A., Osborne, A. (2013). A Systematic Review of Effectiveness of Complementary and Adjunct Therapies and Intervensions Involving Equines. Journal of Heatlh Psychology. 32(4) pp. 418-432. DOI: 10.1037/a0029188.