Gangguan Makan

Posted on Updated on

( Oleh : Harfiah Putu Ponco, M.Psi )

“Kamu gemukan ya sekarang?” Kalimat tersebut sering jadi pembuka saat seseorang bertemu dengan kerabat maupun kenalan yang sudah lama tidak dijumpai. Hal itu mungkin sudah menjadi suatu kebiasaan yang dianggap lazim di lingkungan sosial kita. Namun, ada masalah serius yang tersembunyi di balik perhatian kita terhadap penampilan fisik seseorang. Yaitu gangguan makan.

Faktor budaya, lingkungan sosial maupun media yang menilai seseorang dari penampilan fisik sering disebut berkontribusi besar pada munculnya gangguan makan. Walaupun selama ini kasus-kasus gangguan makan tidak banyak muncul ke permukaan, namun dampak bagi orang yang mengidapnya sangat serius dan bahkan dapat berujung pada kematian. Seseorang yang mengalami gangguan makan memiliki kebiasaan makan yang tidak normal dan dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun psikisnya. Beberapa gangguan makan diantaranya adalah :

Anorexia Nervosa

Orang yang mengalaminya membatasi asupan makanan secara berlebihan dikarenakan ketakutan yang sangat kuat kalau dirinya akan menjadi gemuk. Selain membatasi asupan makanan, penderita Anorexia juga dapat melakukan olah raga secara berlebihan. Segala usaha akan dilakukannya untuk menurunkan berat badan, bahkan saat orang lain mengatakan maupun menunjukkan fakta bahwa mereka sudah sangat kurus.

Bulimia Nervosa

Orang yang mengalaminya sewaktu-waktu akan makan secara berlebihan secara tidak terkendali dan kemudian secara sengaja memuntahkannya kembali. Berbeda dengan penderita Anorexia, penderita Bulimia biasanya berusaha menjaga berat badan normal.

Binge Eating Disorder (BED).

Orang yang mengalaminya sering tidak dapat mengontrol kegiatan makannya. Ia akan makan terus menerus dan secara berlebihan, bahkan di saat ia sudah merasa kenyang. Berbeda dari Bulimia, walaupun tetap timbul rasa bersalah maupun malu pada dirinya, namun penderita BED tidak melakukan usaha untuk memuntahkan kembali makanannya. Ia juga tidak melakukan usaha lain seperti olah raga. Bahkan rasa bersalah, malu, maupun stres dapat memicunya untuk makan lebih banyak lagi. Oleh karena itu biasanya penderita BED dapat mengalami obesitas.

Gangguan makan seperti Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa biasanya lebih banyak dialami oleh wanita dan mulai muncul di usia remaja. Namun, tampaknya kemunculan gangguan tersebut mulai bergeser ke usia pra remaja (sekitar 9 tahun). Pengidap gangguan makan secara umum menjadikan penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan berat badan sebagai dasar dari rasa percaya diri mereka. Hal tersebut tidak lepas dari peran lingkungan dan paparan media tentang penampilan fisik yang ideal. Penderita gangguan makan tidak hanya menghadapi permasalahan psikologis seperti depresi, namun kebiasaan makan dan pola hidup yang buruk juga dapat menggiring mereka pada permasalahan kesehatan seperti kurang gizi, kerusakan organ pencernaan, gagal jantung, dan terakhir berujung pada kematian.

Perlu perhatian serius dari kita semua untuk segera mengenali dan menolong mereka yang mengalami gangguan makan. Semua jenis gangguan makan akan memerlukan bantuan profesional melalui intervensi yang menyeluruh (seperti dari psikolog, psikiater, dokter, ahli gizi) dan juga dukungan dari lingkungan terdekatnya.