Kekerasan Seksual Pada Anak

Posted on Updated on

Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak kembali mencuat. Hal ini patut diwasapai oleh semua pihak, tidak hanya orang tua termasuk juga pihak sekolah. Kita akan membicarakan mengenai upaya agar anak tidak menjadi korban kekerasan seksual dengan narasumber Ratih Zulhaqqi, psikolog anak dan remaja.

Menurut Ratih, salah satu pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan seksual pada anak di sekolah. Pendidikan seksual bukan dalam artian memberikan informasi tentang hubungan seksual, tetapi pelajaran mengenai tubuh dan perbedaan antara lelaki dan perempuan. Selain itu, para orang tua diharuskan waspada terhadap orang dewasa yang berada di sekitar rumah karena tanpa kita sadari pelaku paedofil adalah orang yang dekat dengan si anak.

Membangun budaya untuk saling membagi cerita adalah salah satu hal yang diperlukan. Manfaat dari budaya bercerita adalah anak bisa bercerita kepada orang tua dengan nyaman ketika mereka mendapat gangguan dari temannya, lingkungan rumah atau bahkan anggota keluarga. Selain itu, orang tua juga harus bisa bekerja sama dengan pihak sekolah. Orang tua dengan guru dan kepala sekolah harus membangun komunikasi yang baik sehingga informasi yang muncul selalu terintegrasi. Misalnya, ketika di rumah anak bercerita sesuatu, maka orang tua bisa sharing ke gurunya. Sebaliknya guru juga bisasharing ke orang tua kalau melihat ada perubahan pada anak untuk mendeteksi ada atau tidaknya tindak kekerasan seksual

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Ratih Zulhaqqi.

Dalam dua bulan terakhir banyak sekali pemberitaan di media massa mengenai tindakan kekerasan seksual terhadap anak. Bagaimana pandangan Anda terhadap kasus-kasus ini?

Sebenarnya hal ini membuat saya miris karena yang membuat ironis adalah kadang-kadang pelakunya itu orang terdekat. Jadi kalau pandangan dari sisi psikologi, kami melihatnya mungkin orang tua selama ini “belum sadar” bahwa pendidikan seksual mulai usia dini itu penting sekali untuk mencegah hal ini. Kadang-kadang anak yang mengalami pelecehan atau kekerasan seksual adalah anak-anak yang belum tahu itu adalah hal-hal yang membahayakan.

Jadi, apa saja tindakan yang dikategorikan sebagai pelecehan atau tindak kekerasan seksual terhadap anak?

Pengertian singkat mengenai pelecehan atau tindak kekerasan seksual adalah tindakan atau aktivitas yang dilakukan terhadap korban, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang menimbulkan ketidaknyamanan dan pelanggaran hak. Pelecehan itu ada bagian-bagiannya. Misalnya, jenis bentuk tindakan seksualnya yaitu dari mulai meraba. Lalu ada yang dinamakan petting, yaitu menggesekan alat kelamin, atau meraba-raba bagian yang menimbulkan rangsangan secara seksualitas.

Apa dampaknya terhadap anak yang mendapatkan perlakuan tindakan seksual tersebut?

Dampaknya banyak dan luas, yang paling sering muncul adalah perubahan perilaku. Misalnya, semula ceria menjadi murung. Bagi mereka yang mengalami kekerasan secara fisik, pastinya akan mengalami kesakitan, seperti luka atau iritasi di alat kelamin. Bahkan ada yang menjadi sangat ketakutan karena takut dianggap sebagai orang yang salah.

Kadang-kadang anak yang menjadi korban malah takut dimarahi oleh orang tuanya, sehingga mereka cenderung menarik diri, dan tidak mau berteman. Mereka lebih sering melakukan kegiatan secara sendiri, walaupun ada beberapa anak yang tetap bisa beraktivitas seperti biasa.

Lalu, bagaimana dengan ciri-ciri pelaku yang melakukan tindakan kekerasan seksual atau paedofil?

Ciri-ciri secara spesifik mungkin tidak ada, dalam artian kita tidak bisa melihat bahwa orang yang berkaraterisitik tertentu adalah paedofil atau pelaku kekerasan seksual. Tapi kalau ciri-ciri secara perilaku, biasanya orang-orang yang cenderung atau masuk dalam katagori paedofil adalah mereka yang lebih charming di lingkungannya, mudah merayu anak, atau bahkan yang sering menjadi idola anak-anak. Mereka mengetahui bagaimana cara mengambil hati anak-anak. Misalnya, dengan memberikan permen, menyapa, atau pada awalnya memberikan perlindungan.

Biasanya seorang paedofil ketika bertemu anak kecil tidak serta merta langsung menyerang. Ada pendekatan dulu, lalu ada pembentukan kepercayaan (trust) dari anak ke orang dewasa tadi, sehingga anak sudah merasa nyaman. Saat rasa nyaman sudah terbentuk, maka dengan mudah kegiatan atau aktivitas seksual itu dilakukan.

Kasus kekerasaan seksual kepada anak banyak terjadi di lingkungan sekolah. Apakah pendidikan seks perlu diajarkan di sekolah?

Sejauh ini yang saya tahu beberapa sekolah di Jakarta, pendidikan seksual sudah diajarkan. Kalau saya tidak salah dimulai di kelas 3. Hal ini saya ketahui karena saya pernah berkunjung ke satu sekolah yang mempunyai pendidikan seksual untuk murid-muridnya. Misalnya, mereka memanggil semacam lembaga yang bisa mengedukasi dan memberikan informasi yang benar tentang apa saja anggota tubuh yang boleh disentuh dan tidak disentuh. Kita dapat mengatakan itu pendidikan seksual.

Kalau kita bicara soal penting atau tidak penting, tentu penting sekali hal itu dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Ini adalah bagian dari informasi yang sangat penting untuk anak. Jangan sampai anak mendapatkan informasi seperti itu dari sumber yang tidak akurat, atau yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Sekolah yang sudah mengajarkan pendidikan seks kepada muridnya, apa nama mata pelajarannya?

Biasanya khusus. Ada yang memang masuk ke dalam pelajaran biologi ketika kita bicara soal reproduksi, tetapi memang ada yang memiliki mata pelajaran khusus yang namanya pendidikan karakter. Di setiap sekolah itu beda-beda nama mata pelajarannya, tapi tujuannya adalah untuk mengetahui tentang diri mereka termasuk tentang pendidikan seksual.

Apakah anak sekolah dasar (SD) yang duduk di kelas tiga sudah bisa memahami mengenai pendidikan seks yang diajarkan?

Pendidikan seksual bukan pendidikan tentang hubungan seksual. Jadi anak usia dini pun perlu untuk diberikan pendidikan seksual, bahkan di pra-sekolah pun sudah harus diberikan. Misalnya, belajar tentang anggota tubuh, atau misalnya tahu perbedaan anak laki-laki dan anak perempuan. Pengetahun ini bisa dimulai sedini mungkin. Kalau pendidikan di sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) pasti berbeda.

Jadi pendidikan seks itu bukan semata-mata mengenai pelajaran tentang hubungan seks, tetapi lebih jauh lagi mengenai diri kita. Apa yang harus dilakukan jika di sekolah belum ada pendidikan seksual?

Yang harus mereka lakukan adalah membaca berbagai informasi. Tentunya ada beberapa lembaga yang mengeluarkan buku-buku tentang pendidikan seksual, atau bisa mencari di internet. Sebenarnya informasi tentang pendidikan seksual itu banyak. Ada yang namanya under wear rules, yang harus diketahui oleh guru dan orang tua.

Under wear rules adalah seperangkat informasi yang berisi misalnya tentang bad touch, good touch, yaitu bagaimana bentuk sentuhan yang buruk dan baik. Lalu juga kalimat rahasia, biasanya para pelaku kekerasan seksual mengatakan, “Jangan bilang siapa-siapa ya. Nanti kalau bilang siapa-siapa dimarahi Polisi.” Anak harus mengetahui seperti apa rahasia yang baik dan buruk itu. Dalam under wear rules tersebut ada beberapa poin-poin penting yang perlu diketahui oleh guru maupun orang tua, termasuk informasi tentang anggota tubuh. Your body is your own,tubuhmu adalah milikmu, tidak ada yang boleh sentuh kecuali orang tua, dan dokter dihadapan orang tua.

Bagaimana upaya kita sebagai orang tua ataupun pihak sekolah agar tidak terjadi tindak kekerasan seksual di lingkungan sekolah?

Kalau bentuknya adalah tindakan preventif atau pencegahan agar tindak kekerasan seksual tidak terjadi di sekolah, mungkin institusi sekolah harus memantau dan menyeleksi orang-orang yang memang akan mengajar anak-anak. Kadang-kadang pelakunya justru guru-gurunya, atau penjaga sekolahnya. Jadi perlu tim yang khusus mengajarkan pendidikan seksual, baik untuk anak-anaknya atau guru-guru, yang bertujuan sebagai tindakan preventif untuk mengenali pelaku-pelaku kejahatan seksual tadi.

Apa perlu di setiap sekolah dipasang kamera pengawas (CCTV) untuk memantau agar tidak ada kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak?

Kendalanya pada dana karena biaya untuk membeli kamera pengawas cukup mahal. Sekolah-sekolah yang di pelosok belum tentu bisa memasang kamera pengawas. Tapi saya rasa yang dibutuhkan adalah komunikasi yang bagus antara kepala sekolah dengan guru, sesama guru, dan orang tua dengan guru. Jadi informasi yang muncul selalu terintegrasi. Misalnya, ketika di rumah anak bercerita sesuatu, maka orang tua bisa sharing ke gurunya. Sebaliknya guru juga bisa sharing ke orang tua kalau melihat ada perubahan pada anak untuk mendeteksi ada atau tidaknya tindak kekerasan seksual tadi.

Apa upaya yang harus dilakukan sebagai orang tua untuk membantu pihak sekolah agar anak kita tidak menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan sekolah?

Be cooperative. Jadi orang tua itu harus bisa bekerja sama dengan pihak sekolah. Kadang-kadang karena kasusnya adalah pelecehan seksual, orang tua menutup diri, merasa malu atau menganggap ini sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan. Sebenarnya untuk memutus “lingkaran setan” tadi, orang tua harus mau bekerja sama dengan pihak sekolah agar itu terungkap.

Bagaimana kita bisa mengenali jika anak kita menjadi korban tindak kekerasan seksual di lingkungan sekolah? Apakah ada tingkah laku yang bisa kita pelajari?

Sebenarnya tidak ada ciri-ciri khusus. Jadi saya coba generalisir, ketika anak mengalami kekerasan seksual atau pelecehan seksual biasanya yang akan muncul adalah tema-tema seksual. Misalnya, anak akan bertanya, “Mama, penis apa sih?” Walaupun anak-anak yang tidak mengalami pun mungkin bertanya soal itu tapi intensitasnya tidak sering. Saya pernah mendapat kasus anak tersebut tiba-tiba mengatakan, “Mama ini tempat pipis aku gatal, mama coba liat deh”. Anak ini sebenarnya ingin menunjukan pada ibunya bahwa ada yang salah nih di aku. Coba tolong mama cek, tanpa anak ini merasa takut untuk dimarahi. Atau perubahan yang paling ekstrim dia akan cenderung menarik diri dari lingkungan. Atau karena merasa malu tubuhnya sudah dilihat oleh orang lain, maka dia cenderung tidak mau bercermin. Jadi mereka tidak mau melihat dirinya sendiri, ada yang muncul seperti itu.

Selain di sekolah, waktu anak banyak berada di lingkungan rumah. Apa yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah anaknya menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan rumah?

Pertama, cara yang paling mudah bisa dilakukan adalah sering berbagi cerita dengan anak. Membangun budaya untuk saling membagi cerita adalah pintu utama agar anak bisa dengan nyaman bercerita. Mereka bisa bercerita ketika mereka mendapat ketidaknyamanan dari temannya, lingkungan rumah atau bahkan anggota keluarga. Ketika anak sudah merasa nyaman untuk bercerita, orang tua bisa mendapatkan banyak informasi.

Kedua, don’t judges atau jangan menghakimi anak seburuk apapun cerita anak. Biasanya orang tua sudah terlalu cepat bereaksi. Misalnya anak baru bercerita, “Mama penis aku dipegang”, langsung orang tua marah. Anak harus merasa aman dulu. Setelah semua ceritanya tertampung, lalu kita cari jalan keluarnya sehingga anak tidak merasa terancam. Hal lain adalah pastikan ketika orang tua bekerja, anak-anak berada di tangan yang aman. Pastikan ada anggota keluarga yang juga ikut mengawasi mereka selain pengasuhnya.

Apakah ada kiat-kiat untuk memilih pengasuh yang aman agar anak kita tidak menjadi korban tindak kekerasan seksual ?

Ini yang gampang-gampang susah. Yang paling mudah tentunya kita harus tahu latar belakang pengasuh anak, baik itu keluarganya, rumahnya, atau kalau kita mengambil dari yayasan maka kita tahu siapa kontaknya. Bila perlu buatlah surat perjanjian dengan yayasan tersebut supaya ada perasaan aman dan pengasuh juga tidak akan semena-mena. Kemudian jangan langsung melepas anak dengan si pengasuh yang baru datang. Bila perlu, dalam dua minggu pertama harus didampingi. Tujuan mendampingi adalah selain kita mengajari pengasuh baru bagaimana mengasuh anak, kita juga mengetahui bagaimana karakter si pengasuh ini.

Misalnya, pengasuhnya lemah lembut, tapi nanti ketika tidak ada orang tuanya ia akan marah-marah ke anak. Dalam dua minggu biasanya fluktuatif, sehingga perilaku itu akan terlihat. Lalu bagaimana cara pengasuh tersebut merespon sesuatu, misalnya ketika diberi tahu apakah mendengarkan atau tidak. Jadi orang tua harus benar-benar melihat, itulah hal yang sulit.

Siapa saja kira-kira orang terdekat yang berada di lingkungan rumah yang perlu diwaspadai?

Bukan berarti berprasangka buruk kepada orang-orang di sekitar anak-anak, yang pasti orang dewasa yang berada di rumah tersebut. Walaupun tidak ada niat berbuat jahat, tapi segala kemungkinan itu pasti ada. Yang paling penting adalah, orang tua harus punya “mata” di mana-mana.

Jadi kunci utama untuk mencegah anak kita menjadi korban adalah dengan membekali pendidikan mengenai seks. Lalu bagaimana caranya untuk mengajarkan pendidikan seksual kepada anaknya?

Biasanya dimulai ketika anak mandi. Misalnya dikenalkan bahwa “Ini alat kelamin kamu” dengan menggunakan istilah yang benar. Kalau anak laki-laki sebutlah penis, kalau anak perempun sebutlah vagina. Jangan mengatakan, “Ini burung kamu” karena akan menimbulkan ambigu untuk anak. “Burung kok alat kelamin saya, terus ada burung di atas sana” berarti itu membingungkan. Lalu ketika mandi mulai mengatakan, “Ini bagian tubuh yang harus ditutupi. Kenapa kamu memakai baju sebenarnya salah satunya adalah untuk melindungi area vital kamu atau area penting organ tubuh kamu.” Ajarkan dia menjaga kebersihan organ intimnya. Dengan pentingnya menjaga kebersihan, tentunya tidak sembarangan tangan dapat memegang karena dapat menyebabkan penyebaran kuman, iritasi, radang dan lainnya. Kemudian yang paling penting anak itu harus bisa membedakan ketika dia diperlakukan sesuatu oleh orang lain yang membuat dia nyaman atau terpaksa. Misalnya dipaksa membuka celana atau baju, yang seharusnya dia tidak perlu melakukan itu. Anak harus diajarkan berani menolak atau berani bercerita dengan ibunya, ayahnya, atau orang dewasa di sekelilingnya jika terjadi hal-hal yang membuatnya tidak nyaman.

Seandainya seorang anak sudah mendapat tindak kekerasan seksual, apa yang harus dilakukan oleh orang tua?

Hal yang pertama adalah tidak boleh panik. Ketika orang tua panik, maka akan menambah beban secara emosional bagi anak. Hal yang kedua, jika orang tua bisa menginterogasi secara netral kepada anak lakukanlah. Ini dalam artian sharing atau bertanya, dan bukan mendorong atau mendesak anak untuk bercerita sedetail mungkin. Jika si anak tidak bisa berbicara secara langsung, mungkin bisa menggunakan media menggambar. Dengan menggambar biasanya akan keluar secara natural, tema-tema yang sedang happening atau sedang terjadi di dalam diri anak yang menggambarkan kondisi sebenarnya. Ketika orang tua merasa bahwa efek dari kekerasan seksual ini terlalu dalam atau terlalu berat, bertemulah dengan ahlinya. Hal ini untuk membantu anak supaya dia bisa melepaskan beban yang ada dalam dirinya, dan tidak merasa bahwa dia adalah orang yang bersalah.

Apakah tindakan melapor kepada pihak Kepolisian termasuk yang disarankan oleh Anda?

Ketika dilaporkan ke Kepolisian adalah untuk menjerat si pelaku. Tapi yang kebanyakan terjadi ketika dilaporkan ke Kepolisian adalah anak yang dibawah umur ini pun dibawa ke pengadilan. Saya pernah mendampingi anak umur 4 tahun yang harus datang ke pengadilan seminggu tiga kali, dan itu cukup memberikan efek trauma yang luar biasa. Jadi ketika dilaporkan ke pihak Kepolisian pun, sebisa mungkin pelibatan anak di pengadilan diminimalkan. Bila harus memberikan keterangan mungkin bisa melalui perantara atau tidak di pengadilan. Itu yang bisa membantu anak cepat untuk pulih.

Sumber : Perspektifbaru.com