Orang Tua Tegas = Orang Tua Galak?

Posted on

Jakarta – Amy Chua, profesor di Yale Law School, dibesarkan dengan pengasuhan orang tua yang begitu ketat dengan berbagai target yang tinggi. Metode ‘tiger mom’ ini pun diterapkannya saat mengasuh anaknya. Metode pengasuhan ini memang menuai banyak kritik lantaran menempatkan anak dalam situasi mencekam, meskipun niat orang tua baik.

Tegas, menggunakan intonasi tinggi, dan galak, antara lain ciri seorang tiger mom. Ini dilakukan agar anak selalu melakukan yang terbaik dan hasilnya sudah pasti harus yang terbaik. Beberapa anak mungkin cocok dibesarkan dengan metode ini. Tapi ingat, tidak semua anak adalah sama, meskipun mereka lahir dari rahim yang sama. Untuk menjadi orang tua tegas pun tidak harus serta merta galak.

“Tegas itu dianjurkan dalam parenting. Dengan tegas maka orang tua punya power. Tapi orang tua juga harus konsisten. Tapi tegas itu tidak sama dengan galak ya,” ujar Ratih Zulhaqqi, psikolog anak dan remaja dari Klinik Kancil dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (28/11/2014).

Galak kepada anak berarti suka marah, mencaci maki, dan berbicara dengan intonasi tinggi. Jika anak memiliki karakter yang ‘easy’, dia bisa menerima pola pengasuhan apapun. Biasanya anak dengan karakter seperti ini lebih tangguh menghadapi kondisi di sekitarnya karena memiliki kemampuan bertahan yang lebih baik.

Tapi jika anak yang pencemas, tentunya tidak cocok dengan gaya asuh tiger mom, karena justru membuatnya semakin cemas. Alih-alih mendapat banyak prestasi, anak malah tumbuh tidak seperti yang diharapkan orang tuanya. Alhasil metode pengasuhan ini jadi tidak efektif.

“Mungkin ada yang berhasil, kalau memang cocok. Tapi kalau tidak berhasil, maka akan jadi stressful situation buat anak,” sambung Ratih.

Dihubungi terpisah, psikolog klinis di RSKD Duren Sawit Ervina Diana menyebut seorang tiger mom adalah sosok yang dominan otoriter, di mana selalu berbicara dengan target pribadi. Meskipun sedang bicara dengan anak, namun yang digunakan adalah bahasa dirinya sendiri, sehingga kurang mendengar apa yang anak rasakan.

“Jadi orang tuanya cenderung tidak membolehkan segala hal kepada anak kalau dirasa hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan orang tua. Karena targetnya merupakan target orang tua pribadi,” ucap Ervina.

Orang tua yang menerapkan tiger parenting pada akhirnya mempola anak dengan paksaan. Akhirnya anak sering kali merasa takut jika hasil yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan. “Jadi sepertinya anak tidak punya pilihan selain harus berhasil sesuai target orang tua. Lebih ke kemauan orang tua, bukan kemauan anak,” imbuh Ervina.

Sumber : detikHealth