Ketika Film dan Komik ‘Menginspirasi’ Anak Bunuh Diri

Posted on

Jakarta, Di bulan-bulan akhir 2012 silam, mencuat kabar dari Rusia, seorang remaja laki-laki bunuh diri tak lama setelah menonton film kartun manga Naruto, lantaran karakter favoritnya meninggal. Kasus bunuh diri pelajar SMP di kawasan Pancoran Timur, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu juga dikaitkan dengan tontonan kartun manga favoritnya.

Terlepas dari benar tidaknya kabar remaja bunuh diri karena ‘terinspirasi’ film ataupun komik, dampak film dan bacaan anak pada bunuh diri anak menjadi perbincangan psikolog. “Di grup psikolog, ini memang ramai dibicarakan,” kata psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Sabtu (17/1/2015).

Beberapa anak atau remaja, kata Ratih, memang sangat mendalami atau menginternalisasi karakter dalam komik maupun film favoritnya. Biasanya mereka yang begitu mendalami karakter itu memiliki sifat tertutup.

“Ada yang baca komik tertentu atau lihat film tertentu biasa saja, tidak sampai kepikir bunuh diri. Namun ada yang pemaknaannya dalam sekali,” jelas Ratih.

Karena itu orang tua pun perlu tahu apa bacaan dan tontonan anak. Termasuk pula game yang dimainkan anak, karena di era sekarang ini sudah banyak game yang memiliki unsur sensualitas dan bahkan seksualitas.

“Mungkin ada orang tua yang berpendapat bagus nih anak nggak minta gadget dan punya hobi baca. Tapi bacanya baca apa, bahaya kan kalau bacaannya nggak bagus,” sambung Ratih.

Orang tua penting untuk tahu perubahan pada diri anak. Jika anak sampai menginternalisasi karakter tertentu dalam film yang ditonton atau komik yang dibaca, maka perlu untuk dibimbing. “Bahwa tokoh-tokoh itu imajinatif dan tidak ada di dunia ini. Sehingga anak pun paham dan tidak memaknai terlalu dalam,” ucap perempuan berkerudung ini.

Sumber:detikcom