Anak yang Sulit Konsentrasi di Sekolah

Posted on

Beberapa anak sulit berkonsentrasi saat sedang belajar di kelas. Alih-alih memperhatikan gurunya, beberapa anak malah sibuk bermain sehingga terkesan tidak bisa diam. Apa yang terjadi pada anak ini dan bagaimana mengatasinya?

Persoalan anak yang sulit berkonsentrasi di sekolah menjadi salah satu pertanyaan terpopuler di Konsultasi Psikologi Anak dan Remaja detikHealth 2014. Salah satunya disampaikan oleh Ratna, perempuan menikah berusia 29 tahun. <i>”Saya punya anak umur 4 tahun, dia itu anaknya aktif sekali tapi kalau nonton TV anteng duduk manis, main lego atau mainan yang dia suka bisa anteng. Akan tetapi baru 1 minggu sekolah TK, dia saya lihat kurang minat terhadap pelajaran dan tampak kadang memperhatikan guru, kadang tidak. Kalau ada mainan di kelas yang menarik untuk dia, malah jadi dia mainan terus. Dalam sehari-hari anaknya sifatnya agak keras dan kalau ada kemauan harus dituruti.”</i>

Ratih Zulhaqqi, pengasuh konsultasi Psikologi Anak dan Remaja detikHealth memberikan saran kepada orang tua yang anaknya sulit duduk tenang saat belajar adalah dengan melakukan pembiasaan kepada anak untuk melakukan kegiatan terstruktur seperti ‘start – do – finish’. Selain itu pembiasaan melakukan kegiatan secara satu per satu (single activity) seperti tidak makan sambil nonton TV, atau belajar sembari makan dll. Hal terakhir adalah dengan membuat aturan yang jelas terkait kegiatan sehari-hari serta dilakukan secara konsisten, agar terbentuk kemampuan meregulasi diri pada anak.

Terkadang orang tua khawatir apakah anaknya yang sulit duduk tenang di kelas mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Salah satu ciri ADHD, kata Ratih, adalah energi besar yang dimiliki anak sehingga dia cenderung hiperaktif. Namun perlu digarisbawahi, tidak semua anak yang berenergi besar termasuk anak dengan ADHD.

Untuk mendiagnosa apakah seorang anak mengalami ADHD atau tidak harus melalui serangkaian pemeriksaan psikologi secara lengkap sehingga dapat dipastikan apa yang menyebakan anak memunculkan perilaku tersebut

“Jika perilaku aktifnya mengganggu, coba diberikan aktivitas fisik yang menarik dan bervariasi sehingga ia dapat melepaskan energi besar yang dimiliki secara positif. Ketika keinginan bermainnya masih tinggi di usianya yang baru 4 tahun tentu saja hal ini termasuk wajar karena memang sesuai dengan perkembangannya,” papar Ratih.

Sementara itu untuk sifat keras pada anak yang mana setiap keinginannya harus dituruti, Ratih menyarankan adanya pembiasaan. “Sehingga perlu diperhatikan juga bagaimana pemberian/penerapan aturan sudah berjalan dengan benar dan konsisten atau belum,” ucapnya.

Sumber:detikcom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s